Siaran Pers

Ekspedisi Fortuga Genteng Seribu, Petualangan Para Jago Sains

Jumpers acara Fortuga (Putri/detikTravel)

Jakarta – Sebuah ekspedisi dari Ujung Genteng-Kepulauan Seribu akan digelar, Ekspedisi Fortuga namanya. Tak sekadar jalan-jalan, para peserta juga akan mempelajari sumber daya lengkap dengan informasi dari para ahli sains.

“Acara ini dibuat oleh Fortuga, Forum Alumni ITB (Institut Teknologi Bandung) Angkatan 73,” kata Ketua Panitia Jusman SD, dalam jumpa pers Ekspedisi Fortuga Genteng Seribu di Sekretariat Fortuga, Jl Cisanggiri IV No 17, Jakarta, Jumat (26/4/2013).

Menurut Jusman, perjalanan ini dimanfaatkan untuk mempelajari lingkungan. Ekspedisi ini juga dilakukan dalam rangka merayakan ulang tahun Fortuga yang ke-40.

“Nanti akan diikuti ahli geologi dan lain-lain, akan memotret sumber daya alam juga. Di setiap pos akan ada penjelasan mengenai sumber daya alam di sana” lanjut pria yang pernah menjadi Menteri Perhubungan ini.

Rencananya, akan ada 10 pos dalam perjalanan ini. Di setiap pos peserta tak hanya bisa mengangumi keindahan alam, tapi juga mempelajarinya. Ekspedisi Fortuga akan diselenggarakan selama satu bulan, yaitu mulai 27 April-28 Mei 2013.

“Startnya malam ini pukul 23.00 WIB, pertama ke Ujung Genteng,” ungkap Jusman.

Menurut Ketua Ekspedisi Fortuga, Iwan Bungsu, peserta tak hanya dari anggota Fortuga saja, tetapi juga LSM dan komunitas lain.

“Kami tidak sendiri tapi dibantu oleh Wanandri untuk foto udara, dan sungai dibantu oleh Komunitas Arung Jeram Arus Liar,” kata Iwan.

Ekspedisi Fortuga akan menempuh jarak sejauh 250 km untuk lintasan pertama dan 300 km untuk lintasan kedua. Lintasan pertama akan ditempuh dengan sepeda gunung, motor trail dan mendaki gunung mulai dari Ujung Genteng-Cekungan Bandung.

Lintasan kedua tak kalah seru. Peserta akan menyusuri Sungai Citarum dengan menggunakan kayak dan perahu karet. Lintasan kedua akan berakhir di Kepulauan Seribu. Pos 1 berada di Ujung Genteng, di mana terdapat penambangan pasir besi di pantai selatan Jawa.

“Akan ada acara foto-foto, dan pembicaraan mengenai geologi dan endapan pasir besi titanium, dampak lingkungan juga,” tutur Iwan.

Selanjutnya perjalanan akan menuju Desa Cipta Gelar. Ini adalah desa yang ditempati masyarakat Sunda yang dikenal sebagai Kasepuhan Banten Kidul. Di sana, peserta akan mempelajari sejarah kampung tersebut. Mereka juga akan mempelajari adat istiadat di sana.

“Kemudian ke Gunung Halimun lanjut ke Gunung Salak. Kita akan mempelajari potensi energi panas bumi, geologi panas bumi sama teknik pertambangan,” jelas Iwan.

Begitu tiba di daerah Cidahu, peserta yang berasal dari Fortuga akan membuat program sumur resapan. Hal ini nantinya akan disosialisikan ke masyarakat setempat. Setelah itu, tim ekspedisi akan melanjutkan perjalanan ke Gua Pawon.

“Di Gunung Padang, kita akan cari tahu progress report study di sana, lalu dampak terhadap pemahaman sejarah. Di Gua Pawon, ditemukan manusia purba yang konon nenek moyang orang Sunda,” imbuh Iwan.

Ekspedisi ini juga akan melakukan penyusuran Citarum, berkunjung ke Rengasdengklok, Batujaya, Muara Gembong, dan berakhir di Kepulauan Seribu. Semoga berhasil!


Jakarta | Jumat, 26 April 2013 19:56 WIB | Musdalifah Fachri | A | A | A

Fortuga Ajak Generasi Muda Memahami Pengelolaan Alam dan Lingkungan

YUDHI MAHATMA / ANTARA
Fortuga akan menggelar ekspedisi menelusuri sejumlah wilayah mulai di Ujung Genteng, Jakarta juga ke beberapa tempat di Jawa Barat sampai ke Kepulauan Seribu.

 

Jurnas.com | FORUM Alumni Institut Teknologi Bandung angkatan Tujuh Tiga (Fortuga) melakukan berbagai aktivitas sosial untuk memberikan pemahaman terkait pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam untuk generasi muda Indonesia.

Komunitas angkatan pertama Institut Tekhnologi Bandung (ITB) ini pada tahun sebelumnya telah menggelar sejumlah diskusi, seminar, kegiatan olahraga dan kesenian serta kegiatan yang bersifat sosial dan pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah di Jawa.

Pada tahun 2013 ini, memperingati ulang tahun ke 40 Institusinya, Fortuga akan menggelar ekspedisi menelusuri sejumlah wilayah mulai di Ujung Genteng, Jakarta juga ke beberapa tempat di Jawa Barat sampai ke Kepulauan Seribu. Kegiatan ini dilakukan untuk mendiskusikan masalah penambangan, sosial, dan pencemaran lingkungan yang ditemukan di wilayah tersebut.

“Dalam rangka ulang tahun ke 40, Fortuga menggelar sejumlah kegiatan diantaranya membangun 3,7 juta sumur resapan, leadership camp untuk 73 remaja dhuafa di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Juga menggelar ekspedisi Bhakesra, konser amal jazzy blues session untuk amal bekerjasama dengan Yayasan Penyandang Anak–Anak Cacat (YPAC) serta pagelaran budaya,” kata Ketua Expedisi Fortuga, Iwan Bungsu di Jakarta, Jumat (26/4).

Melalui kegiatan ekspedisi ini, kata iwan, memiliki pesan sosial untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia mengenal alam dan lingkungan. Juga mengetahui kondisi lingkungan yang rusak sehingga dapat solusi untuk setiap masalah yang ditemukan di perjalanan sebagai tantangan pengelolaan alam di masa mendatang.

Tim dari ekspedisi ini juga akan mengunjungi rumah bersejarah di Rangasdengklok, tempat aktivis muda menculik bung Karno dan bung Hatta. Dalam kegiatan ini, akan didiskusikan peranan pemuda dalam perubahan masyarakat.

Juga pada lintasan di Batujaya sampai ke Muara Gembong, kata dia, ahli Geologi Fortuga, Dr Haposan akan menjelaskan seluk beluk industri migas di Pantura, Jawa Barat. Pada Muara Bendera, tim Fortuga juga akan membantu masyarakat lokal menanam pohon bakau di pesisir.

Sebagai penutup perjalanan, tim akan melakukan penanaman bibit karang di Kepulauan Seribu. “Di muara Citarum saat ini, hanya tersisa hutan bakau yang sangat tipis sehingga menimbulkan ancaman abrasi di wilayah pesisir. Ekspedisi ini, akan melihat bagaimana usaha warga masyarakat biasa dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungannya,” kata Iwan.

Kegiatan ini merupakan sebuah usaha bersama komunitas perhimpunan pendaki gunung Wanadri dan komunitas pengarung sungai Arus Liar untuk memotret dan menganalisa persoalan dari berbagai disiplin ilmu serta membahas upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan.

Dokumentas dari ekspedisi ini akan didokumentasikan dalam bentuk buku dan film.


Fortuga Gelar Eskpedisi Jakarta dan Jawa Barat

 

IRSAN MULYADI / ANTARA
Menggelar ekspedisi menelusuri sejumlah tempat mulai dari Ujung Genteng di selatan, menuju Selatan Jawa Barat sampai ke Kepulauan Seribu di wilayah Jakarta.

Jurnas.com | FORUM Alumni Institut Teknologi Bandung angkatan 73 (Fortuga) akan menggelar ekspedisi menelusuri sejumlah tempat mulai dari Ujung Genteng di selatan, menuju Selatan Jawa Barat sampai ke Kepulauan Seribu di wilayah Jakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk mendiskusikan masalah penambangan, sosial, dan pencemaran lingkungan dalam sejumlah wilayah yang dilewati dengan melibatkan para pakar tambang dan geologi ITB.

“Ekspedisi ini dilakukan memperingati 40 tahun Fortuga mengambil jalur darat dan sungai ini dimulai tanggal 27 April sampai tanggal 28 Mei 2013. Ada 10 pos dimana satu pos mencakup dua wilayah yang akan dilewati dalam perjalanan ini yaitu Ujung Genteng, Cipta Gelar, Cidahu, Camp Bravo, Gunung Padang, Gua Pawon, Cekungan Bandung, Danau Cisanti, Saguling, Jatiluhur, Rangas Dengklok, Batujaya, Muara Gembong, Muara Bendera, dan Pulau Seribu,” kata Ketua Umum Peringatan 40 tahun Fortuga, Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (26/4).

Menurutnya dalam perjalanan ini akan melewati lintasan darat dan laut oleh tim yang berbeda. Pada pos pertama, tim fortuga akan melihat komunitas masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul yang masih menjalankan cara tradisional bercocok tanam selama 600 tahun di lereng gunung Halimun. Di wilayah Cidahu, seluruh tim juga akan bergabung dengan camp leadership yang gelar untuk anak kurang mampu (dhuafa).

Tim dari Fortuga, kata dia, juga akan mendaki gunung Gede dan Pangrango untuk mengambil dokumentasi foto dari udara. Tujuannya untuk melihat kerusakan daerah tangkapan hujan yang mengalir ke sungai Cisadane dan sungai Ciliwung.

“Taman Nasional Halimun, Salak dan maupun Taman Nasional Gede Pangrango merupakan kawasan kritis sebagai tangkapan hujan untuk Ciliwung dan Cisadane,” kata Jusman.

Hasil temuan para pakar ini nantinya akan dibahas dalam pertemuan alumni ITB yang digelar di Bandung melibatkan sejumlah pakar diantaranya Dr Andang Bachtiar (Himpunan Ahli Geologi Indonesia) Dr Danny Hilman (LIPI), Dr Hasan Djafar (Arkeologi UI) T. Bachtiar dan Dr Budi Brahmantyo (Kelompk Riset Cekungan Bandung).

Lintasan darat dari ekspedisi ini akan mengtutup dengan ulasan mengenai peradaban bandung Purba di Gua Pawon dan masalah tata ruang di Cekungan Bandung.


Koran Sindo Selasa 07 Mei 2013

Fortuga Gelar Ekspedisi Penyelamatan Lingkungan

JAKARTA– Forum Tujuh Tiga (Fortuga) menggelar ekspedisi penyelamatan lingkungan dengan menelusuri 10 titik di daerah Jawa Barat.

Ekspedisi ini mengambil jalur darat dan sungai dimulai sejak 27 April lalu dari Ujung Genteng, Sukabumi dan berakhir 28 Mei di Kepulauan Seribu. Ketua Umum Peringatan 40 Tahun Fortuga Jusman Syafii Djamal mengatakan, setiap titik ekspedisi memiliki kisah menarik yang mencerminkan kekayaan peradaban, budaya, persoalan lingkungan dan sosial kemasyarakatan.

”Hal tersebut merupakan hal serius yang harus mulai dipikirkan dan ditangani kita semua,” kata dia dalam jumpa pers Ekspedisi Fortuga ”Genteng Seribu” di Jakarta belum lama ini. Jusman mengatakan, kegiatan ekspedisi tersebut terbagi menjadi dua tahap. Pertama, lintasan darat sepanjang 250 km menggunakan sepeda gunung, motor trail, dan pendakian. Ekspedisi dimulai dari Ujung Genteng menuju Pelabuhan Ratu.

Di wilayah pantai selatan ini akan diadakan diskusi mengenai penambangan pasir besi dan penambangan emas rakyat. Perjalanan kemudian akan dilanjutkan dengan mengunjungi Kasepuhan Cipta Gelar yang merupakan komunitas masyarakat adat di lereng Gunung Halimun. Tahap berikutnya adalah mendaki empat puncak gunung di Jawa Barat, yaitu Gunung Halimun, Salak, Gede, dan Pangrango yang dilanjutkan dengan mengunjungi situs prasejarah piramida gunung Padang.

Lintasan darat ekspedisi ini ditutup dengan ulasan mengenai peradaban Bandung purba di Gua Pawon dan pembahasan mengenai masalah tata ruang di Cekungan Bandung. Lintasan kedua sejauh 300 km akan ditempuh melalui jalur sungai menggunakan kayak dan perahu karet. Jalur ini dimulai lereng Gunung Wayang yang dilanjutkan ke Waduk Saguling, Wadu Cirata, Waduk Jatiluhur, dan Rengasdengklok. Rute selanjutnya adalah ke situs bersejarah Batujaya, Muara Citarum.

Saat penyusuran Citarum, tim ekspedisi akan melakukan pengamatan tentang pencemaran Citarum dari hulu sampai muara. Tahap ini juga memetakan permasalahan yang mengancam waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Dia mengatakan, ekspedisi ini akan membuat foto dokumentasi dari darat dan udara.

Foto tersebut akan menjelaskan potensi alam dan permasalahan yang sedang dihadapi. Pihaknya juga akan melakukan training camp bagi pemuda di lokasi yang disinggahi. ”Fortuga ingin melakukan sesuatu yang dapat menjadi inspirasi generasi penerus, terutama dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam dengan mengedepankan kearifan budaya kita,” kata Jusman.

Ketua Ekspedisi Fortuga Iwan Bungsu mengatakan, ekspedisi ini bekerja sama dengan komunitas lain untuk merekam fakta, memotret, dan menganalisis persoalan dari berbagai disiplin ilmu. ”Kita terbiasa melihat persoalan hanya dari sudut pandang ilmu masing-masing,” kata Iwan. _akhmad nur huda


Alumni ITB 73 gelar ekspedisi blusukan ke pedalaman Jawa Barat

Reporter : Islahudin

Jumat, 26 April 2013 16:05:31

gunung padang_1. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Dalam rangka memperingati 40 tahun menjadi warga ITB, Forum Tujuh Tiga (Fortuga), alumni ITB angkatan 1973 dari berbagai jurusan akan melaksanakan ekspedisi Fortuga ‘Genteng Seribu’. Ekspedisi ini akan menjelajahi lokasi-lokasi menarik di sepanjang lintasan utara selatan Jawa Barat, mulai dari Ujung Genteng di selatan hingga Kepulauan Seribu di utara.

“Ekspedisi ini diharapkan dapat memberikan gambaran potensi sumber daya alam, kekayaan budaya, persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat Jawa Barat dan Jakarta,” kata Jusman Syafie Djamal Ketua Fortuga di sekretariatnya di Jalan Cisanggiri IV Nomor 17, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Jalur ekspedisi akan dilalui lewat dua jalur, yaitu jalur darat sepanjang 250 km dan jalur sungai sepanjang 300 km. Jalur darat diawali dari Ujung Genteng, Desa Cipta Gelar, mendaki Gunung Halimun, Salak, Gede dan Pangrango, Gunung Padang, Goa Pawon dan berakhir di Cekungan Bandung.

Sementara Jalur Sungai dimulai dari mata Air Citarum Di Danau Cisanti–Majalaya-Margahayu-Waduk Saguling-Waduk Cirata-Waduk Jatiluhur-Bendungan Walahar-Rangasdengklok-Batujaya-Muara Gembong-Muara Citarum dan berakhir Di Kepulauan Seribu.

Acara ekspedisi akan berlangsung tiap akhir pekan dari 27 April sampai 25 Mei 2013. Pelepasan tim akan dilakukan nanti malam pukul 24.00 WIB di sekretariat Fortuga menuju Ujung Genteng.

Di setiap lokasi, tim ekspedisi akan melakukan sejumlah aktivitas di antaranya diskusi mengenai penambangan pasir besi dan penambangan emas rakyat di wilayah Pantai Selatan, memotret kehidupan masyarakat adat di Desa Cipta Gelar, memotret kerusakan alam di kawasan Gn. Halimun-Gn. Salak, diskusi mengenai peradaban Bandung Purba dan penanaman mangrove di wilayah Kepulauan Seribu.

Sedangkan menurut Iwan Bungsu, Ketua Ekspedisi, misi perjalanan itu agar masyarakat biasa bisa berpartisipasi aktif dalam penyelamatan dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Lebih lanjut, menurut Iwan, dokumentasi dari ekspedisi akan didokumentasikan dalam bentuk buku dan film yang mengikutsertakan Perhimpunan Pendaki Gunung Wanadri.

Dari penjelasan jusman, berkumpulnya angkatan ITB 1973 dari semua jurusan karena saat itu masih mahasiswanya masih sedikit. “Kami semua saat masuk ITB dari kalangan anak-anak petani, guru, pedagang, dari berbagai daerah di Indonesia, makanya ingin berkontribusi lewat forum ini ke masyarakat” kata Jusman.

Selain Jusman yang pernah memimpin PT DI dan menjadi Menhub, Angkatan ITB 1973 beberapa menjadi pejabat seperti Hatta Rajasa, Rizal Ramli, Kusmayanto Kadiman, dan yang lainnya.

[ian]

 

Jelajah Fortuga ITB (1)

Jalan terjal menuju Kampung Adat Ciptagelar

Reporter : Vincent Asido Panggabean

Rabu, 1 Mei 2013 07:00:00

Tim ekspedisi Fortuga ITB menuruni bukit sepulang dari Kampung Ciptagelar, Sukabumi, Ahad (28/4) . (merdeka.com/vincent asido panggabean)

1

 

Sabtu pekan lalu, saya mendapat kesempatan mengunjungi kampung adat dari Kasepuhan Ciptagelar bersama alumni Institut Teknologi Bandung angkatan 1973 tergabung dalam tim Fortuga (Forum Tujuh Tiga). Ini bagian dari ekspedisi untuk merekam potensi sumber daya alam dan masalah di pantai selatan Jawa Barat. Tujuan penjelajahan pertama dengan bus wisata ini adalah Ujung Genteng, Sukabumi.

Di sana kami menggelar upacara pembukaan dan kemudian menuju Pelabuhan Ratu buat makan siang. Sorenya, kami ke Kampung Ciptagelar. Setiba di Cicadas, kami harus meneruskan perjalanan menumpang truk telah menunggu. Saya ingat saat itu sekitar pukul tujuh malam.

Rombongan kami berjumlah 17 orang. Dua orang duduk di depan bareng sopir, sisanya berhimpitan di bak truk. Kami terpaksa duduk meringkuk bersama barang bawaan.

Ternyata, medan berat harus dilalui memang tidak mungkin memakai bus. Dengan lebar jalan hampir sama dengan badan truk, jurang menganga di sisi kanan, dan tanpa penerangan, membuat perjalanan kami semakin menegangkan.

Sesekali truk kami harus mendaki ketinggian cukup tajam dan menuruni jalan curam sembari ditemani hujan lebat. Bahkan, ketika kami ingin melewati sebuah jembatan kayu, sopir truk turun untuk melakukan ritual. Dia mengambil dua ranting pohon dan berdoa sambil berjongkok di pinggir jalan. Dia barangkali minta izin lewat dari penguasa setempat.

Tidak sampai dua jam, kami tiba di Dusun Adat Ciptagelar, terletak di Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Kami lantas memasuki rumah panggung dari kayu disebut Rumah Gede atau rumah utama dalam kampung itu.

Kasepuhan Adat Ciptagelar kini dipimpin oleh Abah Ugi. Saya tadinya membayangkan sosoknya sudah tua, serius, dan penuh tata krama. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika diperkenalkan dengan Abah Ugi dan istrinya Emak Alit (bernama asli Destri Dwi Delianti, 24 tahun). Ternyata lelaki bernama lengkap Ugi Sugriana Rakasiwi ini jauh dari lamunan saya.

Umurnya masih 28 tahun. Gaya bicaranya santai, tidak mengesankan dia seorang tokoh adat. Kami melepas malam sambil duduk bersila di lantai dapur. Kadang, di sela obrolan juga terselip candaan.

Di dapur berukuran 6 x 8 meter persegi itu terdapat empat tungku api dengan kayu bakar berjejer di atas tungku. Seorang bapak turut tinggal di Rumah Gede bersama abah mengatakan api di dapur itu tidak boleh mati. Selain untuk memasak, asap dihasilkan dapat menghangatkan rumah dan memperkuat bangunan. Para pengikut abah di rumah itu juga sudah mempunyai tugas masing-masing.

Capek dan takut di sepanjang perjalanan seolah sirna oleh kehangatan Abah Ugi bersama Emak Alit, dan para pembantu mereka. Kami banyak bertanya seputar adat berlaku di sana. Setelah puas berbincang, abah dan istrinya masuk ke ruangan belakang menjadi kamar pribadi. Kami kemudian tidur di ruang tamu beralas tikar.

[fas]

 

Jelajah Fortuga ITB (2)

Tradisi haram jual padi atau beras

Reporter : Vincent Asido Panggabean

Rabu, 1 Mei 2013 07:28:00

Abah Ugi dan Emak Alit. (merdeka.com/vincent asido panggabean)

Abah Ugi bercerita mereka masih menjalankan tradisi berusia lebih dari enam abad. Warga Ciptagelar juga tidak pernah lepas dari sistem pertanian. “Sejak 1368 sampai saat ini, kita masih mempertahankan varietas padi lokal. Jadi sudah 600 tahun lebih kami mempertahankan pertanian padi,” kata pemimpin Kasepuhan Ciptagelar sembari mengepulkan asap rokok, Ahad pekan lalu.

Ada satu pantangan mesti dipegang seluruh penduduk Ciptagelar. Mereka dilarang menjual padi dan beras. Namun, siapa saja yang meminta akan dikasih.

Hal ini tentu saja mengusik rasa penasaran saya. Apa yang menjadi dasar sebuah komunitas dengan penghasilan padi sebagai komoditas utamanya, namun pantang menjualnya. “Kalau diperjualbelikan akan menjadi uang dan cepat habis, beda kalau kita simpan. Selain itu banyak godaan kalau sudah jadi duit,” tutur Abah Ugi sembari melempar canda.

Masyarakat Ciptagelar terdiri dari dua tipe, yakni warga jero dan orang luar. Jero merupakan warga menetap di dalam dan masih melakukan adat istiadat. Sedangkan orang luar adalah warga tinggal di luar Kasepuhan Ciptagelar. Mereka ada yang tinggal di Bogor, Bandung, Jakarta, Kalimantan, Aceh, Sulawesi, dan bahkan sampai keluar negeri. Tetapi mereka harus tetap menjalin silaturahmi dan wajib pulang paling tidak setahun sekali.

Ada tiga hukum berlaku di Ciptagelar, yakni hukum agama, negara, dan hukum adat. “Hukum adat itu tidak tertulis dan hampir mirip dengan kualat kalau kita melanggar sesuatu dilarang orang tua kita dari dulu,” kata ayah dari Atlan Dharma Rasa ini.

Meski berupaya memelihara tradisi, Abah Ugi mengakui pengaruh budaya luar tidak bisa dibendung. Dampak baiknya antara lain membangun turbin, mengembangkan masyarakat, penyuluhan pertanian, dan sekolah. “(Pengaruh) buruknya ada yang ajakin tebang-tebang pohon.”

Emak Alit, istri Abah Ugi, mengatakan mereka sering menerima tamu dari luar dan tidak jarang menginap di Rumah Gede. Bangunan ini memang terbuka untuk siapa saja ingin singgah.

[fas]

 

Jelajah Fortuga ITB (3)

Pemuka adat melek teknologi

Reporter : Vincent Asido Panggabean

Rabu, 1 Mei 2013 07:54:00

 

Suasana di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa barat, Ahad (28/4). (merdeka.com/vincent asido panggabean)

Umurnya baru 28 tahun. Namun Abah Ugi sudah menjadi pemuka adat Kasepuhan Ciptagelar sejak enam tahun lalu. Dia menggantikan ayahnya, Abah Anom (Encup Sucipta), meninggal pada 2007.

Abah Ugi mengaku membawahi 568 kampung tersebar di tiga kabupaten, yakni Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat serta Lebak di Provinsi Banten. Sebelum menetap di Ciptagelar, leluhurnya berpindah-pindah tempat sesuai wangsit.

Mereka pernah menetap di Ciptarasa. Abah Ugi mengungkapkan ayahnya telah memperoleh wangsit untuk pindah ke Ciptagelar pada 1998. Setelah yakin, baru tiga tahun kemudian Abah Anom bersama keturunan dan pengikutnya menjalankan pesan itu. Pilihannya cuma dua, pindah atau mati dan yang diwajibkan pindah itu cuma delapan keluarga,” kata Abah ugi kepada merdeka.com, Ahad pekan lalu. Tapi di luar itu terserah. “Mau pindah boleh, tidak mau juga tidak apa-apa.”

Ada yang berubah sejak mereka pindah. Menurut Abah Ugi, semasa bermukim di Ciptarasa, warga baru mengenal teknologi sebatas radio pemancar AM. Tapi di Ciptagelar, bukan sekadar sudah ada pemancar FM, mereka telah memiliki stasiun radio diberi nama Ciptagelar Radio.

Bahkan, mereka sudah mendirikan stasiun televisi bernama Ciga TV. Meski begitu, Abah Ugi menegaskan warganya tetap memegang tradisi. “Sejak 1980-an ke bawah, memang tidak ada listrik, teknologi baru masuk paling baterai lalu radio nyalanya tiga bulan sekali,” ujar Abah Ugi. Namun ketika ayahnya memimpin, dia mencari tahu bagaimana mendapatkan teknologi baru tanpa mengganggu kehidupan adat.

Abah Ugi menjelaskan pada 1988 ayahnya membuat turbin air dengan kayu blebek buat membangkitkan listrik. Tenaga dihasilkan sekitar tiga ribu watt dan mampu menerangi 50 rumah. Ayahnya membuat itu secara otodidak.

Pada 1990-an, ayahnya membangun ulang pembangkit listrik tenaga air menggunakan dua kincir untuk menerangi dua desa, Sinaresmi dan Sirnagalih. Namun turbin hanya mampu bertahan dua tahun lantaran pemakaian warga melebihi kapasitas. mereka kemudian mendapat bantuan dari Jepang buat membangun turbin mampu menghasilkan 80 ribu watt listrik. Karena sudah lama dan ada yang rusak daya keluar kini hanya setengahnya. Sekarang Desa Sirnagalih sudah masuk listrik dari PLN.

Meski cuma tamatan SMA, Abah Ugi mengaku sudah tertarik soal teknologi sejak SD. Bahkan istri abah, Emak Alit, mengatakan abah sudah bisa merangkai radio sejak SMP kelas tiga dan bikin petasan sedari SD.

Abah Ugi pun memiliki idola selain ayahnya dalam hal teknologi. “Pokoknya yang membangun kemajuan bagi seluruh dunia abah suka, seperti Thomas Alfa Edison dan Graham Bell.”

[fas]

Menengok jejak suram tambang emas liar Sukabumi

Reporter : Vincent Asido Panggabean

Senin, 29 April 2013 06:45:00

tambang emas. Merdeka.com/Arie Basuki

Forum Tujuh Tiga (Fortuga) yang merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1973 pada 27-28 April melaksanakan ekspedisi bertajuk Genteng Seribu. Ekspedisi yang dilakukan untuk merekam fakta potensi sumber daya alam dan masalah di Pantai Selatan Jawa Barat ini diawali dari Ujung Genteng, Sukabumi.

Ketua Ekspedisi Fortuga, Iwan Bungsu, mengatakan dari segi geologi, di wilayah Pantai Selatan Jawa Barat memang terdapat endapan pasir besi dan endapan emas. Hal inilah yang menarik warga lokal untuk melakukan penambangan secara liar atau yang biasa disebut gurandil.

Iwan menjelaskan para gurandil ini melakukan aktivitas penggalian lubang ke dalam bukit-bukit. Namun, yang menjadi masalah di sini adalah, mereka tidak memperhatikan aspek keselamatan kerja dan dampak buruk bagi lingkungan sekitar.

“Ini lantaran setelah mereka menemukan tanah yang terdapat endapan, mereka kemudian memproses pemisahan dengan menggunakan air raksa. Nah air raksa itu mereka buang ke sungai dan akhirnya menjadi suatu masalah,” kata Iwan kepada merdeka.com, di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (27/4).

Dia menambahkan meski para gurandil ini kebanyakan penduduk lokal, tetapi modal mereka bisa jadi dari luar daerah itu sendiri, seperti halnya Jakarta.

“Operasi penambangan biasanya dilakukan menggunakan jalur lalu lintas umum, sementara kendaraan mereka tergolong berat sehingga dapat merusak jalan-jalan dan membuat warga sepanjang Pantai Selatan Jawa Barat mengeluh,” ujar dia.

Selain itu, masalah perebutan lahan di antara para gurandil terkadang juga terjadi. Iwan menjelaskan biasanya jika ada satu endapan yang kaya sekali akan sumber maka biasanya para gurandil ini berkelahi untuk memperebutkannya. Bahkan, kelompok lain biasanya tidak segan-segan untuk menggali di sebelahnya.

“Nah hal ini juga bisa menyebabkan kekerasan fisik. Namun, hal seperti ini memang tidak pernah dillaporkan sebab kalau ketahuan maka lokasi mereka nantinya bisa ditutup,” jelas Iwan.

Terkait masalah ini, Iwan dan kawan-kawan dari Fortuga akan melihat sisi lain dari sistem pertambangan dilakukan oleh penduduk lokal ini, kemudian mengamati dan merekam fakta tekait peranguh penambangan terhadap lingkungan.

Namun, Iwan mengatakan apa yang terjadi terkait masalah pertambangan ini memang merupakan masalah yang rumit dan kompleks.

Untuk itu, Fortuga turut menyertakan para ahli seperti ahli geologi dan ahli pertambangan yang memang dari para alumni ITB , meski saat ini dia menjelaskan masih akan mengamati dan merekam fakta yang ada.

“Jadi kita mencoba untuk mengungkapkan bahwa ada potensi sumber daya alam yang besar baik pasir besi dan emas, tapi juga ada masalah. Mengungkapkan hal seperti ini saja sudah menjadi suatu langka dan memang untuk menyelesaikan masalah ini kita harus bersama-sama karena di sini ada masalah masyarakat, hukum, ekonomi, dan lainnya,” terang Iwan.

[ian]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *