Fortuga California Golf Tour 2018

California Golf Tour:
Sat 23Juni jkt-LA
Sun 08Juli SF-Jkt

First Week:
Sun 24Jun : Los Angeles
Holiday Inn LAX (6Room)#

Mon 25Jun : 01.Torrey Pines South,La Jolla #
Holiday Inn Old Town Sandiego
(8Room)#

Tue 26Jun: 02.PGA West (TPC Stadium), La Quinta #
Holiday Inn Indiho(8Room)#

Wed 27 Jun: LAX ,Camarillo Factory Outlet, Santa Barbara
Holiday In St Barbara(7Room)

Thu 28Jun : 03.Sandpiper Golf Club #
(10 Golfer,Sof Absen)
Holiday Inn St Barbara(7Room)

Fri 29Jun : 04.Poppy Hills Golf Course #
(09 Golfer,Soft,Batik Absen)
Holiday In Montery Bay(6Room)

Sat 30jun : Carmel
Holiday Inn Montery Bay(7Room)

Sun 01Jul : Montery
Holiday Inn Montery Bay(7Room)

Second Week:
Mon 02Jul: 05.Spyglass Hill ,Pebble Beach
Holiday Inn Montery Bay(8Room)

Tue 04Jul: 06.Pebble Beach G. Links
Holiday Inn Montery Bay(8Room)

Wed 04Jul: Gilroy Factory Outlet
Holiday Inn Salinas(8Room)

Thu 05Jul : 07.Cordevalle, San Martin #
(10 Golfer,Buce Absen)
Holiday Inn Salinas(7Room)

Fri 06Jul: 08.Pasatiempo G.C., Santa Cruz #
(10 Golfer,Buce Absen)
Holiday Inn Salinas(7Room)

Sat 07 Jul: San Fransisco
Holiday Inn SF Airport(7Room)

Sonny Purnara – Hole in One di Black Horse Golf Course, Monterey, California, USA, Hole 5, 127 meter dengan 7 Iron,  main golf 5 Juli 2018 bersama Andiyanto dan Joey Sumual

 

2018 Fortuga West Coast Tour: TRAVELING WITH TIGER – Prologue

“The Holy Sites”  by Amrie Noor AR77

Golf jelas bukan agama. Tiger Woods pun bukan nabi. Apalagi Phil Mickleson. Tapi agama dan golf dalam skala yang berbeda sama-sama memperkaya pengalaman batin. Keduanya mengajarkan kita bersikap empatik, gak takabur, rendah hati, dan terus menerus bersyukur. Secara analogis, golf juga memiliki tanah suci (holy sites) yang wajib dikunjungi minimal sekali seumur hidup, apabila mampu secara fisik maupun isi kocek.

Jika Muslim mengidamkan sholat di Masjidil Haram, Mekkah dan Masjid Nabawi, Madinah, para pegolf termimpi-mimpi untuk menjajal Old Course, St. Andrews di Skotlandia dan Pebble Beach di USA. Old Course diyakini sebagai tempat golf bermula. Muncul dari kebosanan bocah-bocah penggembala domba di pesisir berkabut sekitar 600 tahun silam. Salah seorang barangkali terjaga dari lamunannya, kemudian memukul gumpalan rumput kering melewati gundukan pasir, menghindari rintangan perdu tua menuju lubang yang terbentuk akibat gerusan ombak Laut Utara. Teman-temannya terkesima dan gantian memukul. Lalu mereka taruhan satu sloki wiski bagi siapa yang sampai di lubang dengan pukulan paling sedikit. Golf pun lahir tanpa rencana. Sementara Pebble Beach yang terletak di pesisir Samudera Pasifik adalah padang golf terindah di Amerika yang bisa diakses publik.

Tentu banyak padang golf lain yang lebih indah dan juga sarat dengan unsur historis dan tradisi, seperti Augusta National, di Georgia – tuan rumah US Masters; Pine Valley di New Jersey, dan Cypress Point di sebelah Pebble Beach, dua padang golf agung yang selalu menempati posisi Top 10 World’s Greatest Golf Courses, angket tahunan besutan Golf Digest. Masalahnya padang-padang golf tersebut bersifat privat. Hanya bisa diakses atas undangan member. Anda bisa menjajal Augusta National jika kenal dan diundang oleh Warren Buffett atau Bill Gates. Kedua padang golf ini dijaga ketat bagai Ka’bah yang boleh dimasuki atas izin Raja Saudi Arabia. Di Pebble Beach, gue iseng menanya marshal tentang kemungkinan menjajal Cypress Point (siapa tau dia kenal orang dalam, tak iye?), dijawab: “You have to know God to play there” Ih, lebay lo!

Gue udah pernah napak tilas dan menjajal Old Course tahun 2016 dan 2017. Pebble Beach belom. Makanya jalan gue agak timpang, akibat keseimbangan batin belum terpenuhi. Itulah sebabnya ketika awal 2018 para pegolf alumni ITB angkatan 1973 yang berhimpun dalam Fortuga (Forum Tujuh Tiga) mulai bisik-bisik bikin rencana perjalanan ke Pantai Barat Amerika (US West Coast) gue langsung tersentak dari mimpi. Apalagi ketika Sonny Purnara, selaku komandan wisata mengirimkan rincian program via japri lengkap dengan daftar 8 padang golf yang hendak dijajal. Selain Pebble Beach (venue US Open 1972, 1982, 1992, 2000, 2010, 2019 dan PGA Championship 1977), dalam program tercantum Torrey Pines (venue US Open 2008 dan 2021), PGA West, Sandpiper, Poppy Hills, Spyglass, Spanish Bay, CordeValle (venue US Women’s Open 2016), dan Pasatiempo, mahakarya Alastair MacKenzie selain Augusta National. Busyet! Yang bener, nih? It’s like too good to be true! Dalam satu road trip peserta berkesempatan mencium aroma rumput 8 padang golf kondang dan meninggalkan divot berbentuk huruf A (in my case)?

Tanpa konsultasi dengan istri gue spontan mendaftar. Perihal wisata golf gue pake prinsip, ‘lebih baik minta maaf daripada minta izin.’ Minta exit permit ntar aja kalo udah 100% pasti jalan. Menilik programnya yang kurang ‘wife-friendly’, pindah dari kota ke kota mengejar lokasi padang golf, istri gue keknya ogah. Sebetulnya kalo doi ikut, rapopo sih. Dia jago menjelajah internet mencari lokasi wisata yang ikonik seperti museum dan kota lama, piawai mengutak-atik Google Maps, dan pakar mengorder Uber. Masalahnya di hampir semua kota yang disinggahi seperti San Diego, La Quinta, Solvang dan San Jose, rombongan hanya mampir semalam untuk check in, tidur, cuci kaos kaki, check out, menuju padang golf dan pindah berkendara ke kota persinggahan berikutnya. Kecuali di Monterey yang direncanakan mampir 7 hari. Di kota resor ini gue jamin beliau bakalan mengubek-ubek Old Fisherman’s Wharf dan bolak balik ikut tur menengok migrasi kawanan ikan paus.

Selain agenda golf yang keren, gue memutuskan ikut karena kenal semua peserta dari Fortuga.
Pegolf Jomblo (istri ga ikut):
Bakti Luddin (Batik), Buce Rustanto (Buce), Iwan Pontjo, dan Sonny Purnara.
Bareng Istri:
Abimanyu Suyoso dan Ati Suyoso yang juga pegolf, Joey Sumual, Sofwandi, Sapta Putra Yadi, dan Andianto Wardhana plus putri tercinta.
Non ITB:
Sohib gue, anggota IGC bernama panjang, Wibowo Mardiyuwono Hilal Mohammady.

Walaupun beda angkatan (4 tahun), gue sering main golf bareng mereka dalam acara turnamen bulanan PGS (Persatuan Golf Senior) ITB, atau yang khusus Fortuga saja. Alumni ITB dikenal sangat kompak, tapi Fortuga kompak gak kira-kira, bahkan melibatkan istri dan suami. Mereka sering mengadakan aktifitas bersama, kegiatan sosial, pengajian, wisata dan budaya. Konon kabarnya telah ada 6 anggota Fortuga yang menjadi menteri kabinet, sementara dari angkatan gue (1977), baru satu yang ntar bakal jadi presiden.

Untuk memberi kesempatan bagi yang belum punya visa USA, keberangkatan diundur dari April ke Juni. Istri gue yang masih ragu malah batal sekalian. Bentrok dengan kegiatan kantornya. Lega, euy! Gimana pun juga ada rasa sungkan sikit. Melawat ke negeri orang tapi fokus tetap ke golf agak-agak cemmana gitu. Punya pengalaman pahit, sih. Beberapa tahun lalu, 4 pasang pegolf ITB 77 dan istri berkunjung ke KL. Janji main golf hanya 3x, dan tiap sore wisata bareng. Dasar bengak, pas makan malam hari keempat, kami membujuk para istri agar esok pagi boleh merumput sekali lagi. Mereka diam aja, senyum-senyum. Asyik! Balik ke apartemen sewaan, para istri langsung masuk kamar. Kami main kartu di ruang tamu sambil nonton TV. Kok ada bunyi orang beberes? Tak lama 4 istri mendekat bawa kopor dan serentak bilang: “Anterin ke airport, dong, dan cariin tiket go show. Kami pulang aja sekarang.” Semua berhamburan memeluk istri, minta ampun. Kapokmu kapan, rek!?

Jauh hari sebelum keberangkatan, Sonny terus menerus mengingatkan agar setiap peserta manut pada prinsip ‘traveling light’ untuk memudahkan perjalanan antar kota. Apalagi hanya tersedia 3 mobil sewa tipe SUV dengan ruang bagasi terbatas. Tiap peserta disarankan membawa: golf bag mini berisi 7 klab tanpa bag cover, kopor ukuran medium dan bagpack atau tas jinjing. Tentu saja ada yang membandel (nama-namanya akan dibeberkan dalam bab selanjutnya hehehe) sehingga salah satu mobil nanti terlihat bak rombongan mudik lengkap dengan terpal penutup barang di rooftop.

Seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya 23 Juni, mayoritas rombongan berkumpul di Terminal 2, Bandara Soekarno-Hatta. Sonny udah berangkat duluan, sementara Buce dan Iwan menyusul. Ngumpul di Bakmi GM. Masing-masing terlihat mengintip dimensi kopor temannya. Kopor gue keknya paling kecil, karena gue penganut ‘ajaran’ trilogy, membawa 3 kaos kaki, 3 kaos dan 3 celana golf. Sisanya beli di TKP. Apalagi di hotel pasti ada laundromat, sehingga adagium ‘wear one, wash one, dry one’ bisa dijalankan dengan seksama.

Tepat pukul 14.20, pesawat berbadan lebar EVA Air tinggal landas menuju Los Angeles, diselingi stopover 2 jam di Taipei. Saat pesawat melesat menuju ketinggian jelajah, teman gue Bowo terdengar komat kamit membaca Ayat Kursi. Gue menghembuskan nafas lega, yakin bahwa perjalanan luar biasa ini akan lancar dan penuh kenangan yang berkesan. Insya Allah!

 

2018 Fortuga West Coast Tour: TRAVELING WITH TIGER

“The Holy Sites”  by Amrie Noor AR77

“Pacific Coast Highway”

Ini adalah wisata golf paling seru dan luar biasa!

Berangkat 23 Juni siang, mendarat lagi di Jakarta 9 Juli siang. Total 17 hari. Hanya ngider di 1 negara bagian: California. Jumlah peserta: 17 jiwa, terdiri dari 12 pegolf (11 pria, 1 wanita) usia rata-rata 60 tahun, 4 istri pegolf, 1 remaja. Main di 9 lapangan di 6 kota. Nginap di 10 hotel. Menyewa 3 mobil tipe SUV.  Menempuh perjalanan darat berjarak total 1120 mil atau setara dengan 1800 km. Sebagai pembanding, jarak Jakarta dan Surabaya hanya 807 km.

Sebetulnya kalo gue yang bikin program, bakal bikin yang lebih simpel. Nginap di 2 area saja, Palm Springs dan Monterey. Pilih 5 padang golf di tiap area. Tapi justru berkat program organik dan fleksibel yang dirancang oleh Sonny Purnara ini, seluruh peserta – terutama gue serasa mendapat ‘blessing in disguise,’ rahmat dibalik kepenatan raga. Rahmat berupa pengalaman berkendara (bukan gue yang nyetir) menyusuri Pacific Coast Highway (PCH), mengunjungi kota-kota seperti Camarillo, Gilroy (ibukota garlic), San Jose, Solvang, dan Santa Cruz. Pindah nginap di 3 hotel di Monterey. Mengabadikan The Golden Gate dari 3 ketinggian berbeda. Tanpa cekcok, penuh tawa dan canda. Diurut dengan minyak kutus-kutus oleh Andianto Wardhana saat lutut gue bengkak akibat gombal asam urat. Friendship at its best!

Kenapa menyewa 3 mobil, kok gak pilih opsi bis 24 kursi? Pertanyaan ini terbersit dalam pikiran gue, Minggu, 24 Juni ketika kami menyadari ruang bagasi 3 mobil SUV yang diparkir berjejer di halaman hotel ternyata gak cukup untuk memuat semua golf bag, kopor-kopor dan pernik lainnya. Jawabannya: demi fleksibilitas! Rumus lengkapnya begini: Jika dalam wisata golf terdapat 4 istri bukan pegolf, untuk memenuhi minat mereka yang tentu saja berbeda-beda, sewalah mobil lebih dari satu. Amit-amit jangan dikumpulin dalam 1 bis. Bisa ngambek barengan, dan itu wajib dihindari.

Menyewa 3 mobil aman bagi para suami. Usai golf mereka akan bergegas balik ke hotel. Di jalan udah nelpon: “Bentar lagi, mam/bun/say/dear/luv/honeybunny. Ntar jadi mo dianterin ke mall/laundromat/shopping/sightseeing/makan? Siap-siap ya.” Tujuan yang berbeda dapat dipenuhi tanpa cingcong. Asyik! Itulah sebabnya isi 3 mobil diatur sedemikian rupa agar para suami tenang merumput. Mobil 1 berisi para jomblo (sopir: Sonny Purnara), Mobil 2 memuat 3 pasang suami istri (sopir Sapta Putra Yadi), dan Mobil 3 berisi 2 pasang dan 1 remaja (sopir: Joey Sumual). Mobil 1 karena lebih besar kebagian limpahan bagasi. Tentu saja gak muat!

Imbauan kepala rombongan, Sonny Purnara agar hanya membawa 7 klab dalam tas golf untuk driving range dilanggar oleh 3 peserta: Bakti Luddin (14 klab), Sapta Putra Yadi (14 klab kidal), dan Amrie Noor (12 klab). Alasan Bakti: “Main golf dengan 14 klab aja susah, apalagi kalo cuma 7.” Ironisnya, tanggal 5 Juli di padang golf Black Horse dekat San Jose, justru Sonny yang hanya membawa 7 klab mencetak hole-in-one. Quantity does not matter!

Kembali ke masalah bagasi, solusinya meniru para pemudik Lebaran. Sebelum ke bandara LAX menjemput Budi Rustanto (Buce) yang datang belakangan, Mobil 1 mampir di Westfield Mall, Culver City untuk membeli terpal coklat dan tali temali yang digunakan para pendaki gunung. Golf bag para pembalelo ditarok di rooftop yang sepanjang perjalanan mengeluarkan bunyi-bunyi mendebarkan seperti bakal melorot dan bertebaran di highway. Ketika para jomblo bergotong royong hulupis kuntul baris membereskan bagasi, Mobil 2 dan 3 berwisata ke pusat kota LA. Sebel deh, padahal udah janji sama sobat gue, Wibowo untuk memotret dia dengan latar belakang sign raksasa, HOLLYWOOD (berkat doa yang terus dipanjatkannya menjelang tidur, obsesinya ini terwujud tanggal 27 Juni, ketika kami harus menginap 1 hari lagi dekat LA sebelum meneruskan perjalanan ke utara).

Akhirnya pukul 14.30 rombongan mudik berangkat menuju San Diego yang berjarak 200 km ke arah selatan. Sebelumnya untuk menjalankan tradisi berkunjung ke Pantai Barat Amerika, mampir dulu beli bekal In-N-Out Burger dekat Marina Del Rey. Murmer dan wajib karena waralaba ini hanya terdapat di California. Burger ini yang bertanggungjawab atas meningkatnya kadar asam urat gue ke level triple bogey.

Situasi dalam mobil mulai tenang. Bakti yang ditunjuk sebagai navigator gagal menjalankan tugasnya. Beliau lebih banyak tidur terkantuk di jok depan. “Bukannya melototin Google Maps, malah zikir,” kata Wibowo. Peran tersebut gue ambil alih bersama Buce, padahal kami duduk di jok belakang. Salah satu tantangan berkendara jauh membawa penumpang berusia rata-rata 60 tahun adalah beser. Bawaannya pengen pipis melulu. Cocok buat gue. Usai mengosongkan kandung kemih, sempat merokok sikit.

Kami mampir di Dana Point, San Clemente di pinggir Samudera Pasifik untuk berfoto genit. Matahari telah tergelincir ke ufuk barat. Semburat warna jingga dan oranje membias melukis langit. Dua mobil lain udah duluan sampe di San Diego. Melewati freeway 6 jalur kiri kanan, Wibowo nyeletuk: “Lewat sini gratis ya, mas Sonny? Edan negoro iki. Ini yang mesti ditiru. Jalan 12 jalur ora mbayar. Lha, kita malah bangga bengok-bengok cuma bikin jalan tol. Ora mutu!” Semua jomblo terbahak.

Freeway yang kami lewati adalah penggalan PCH yang bermula dari Southern California, tepatnya Interstate 5 di selatan San Juan Capistrano dan berakhir di US 101 di Leggett, Mendocino County, dekat perbatasan California dan Oregon. Panjangnya 1055 km, salah satu hamparan jalan terindah di Amerika. Membutuhkan waktu 10 jam dari ujung ke ujung jika anda berkendara santai. Tapi kalo pake mampir-mampir di 13 kota indah yang dilewatinya seperti Big Sur, Monterey, Malibu, San Luis Obispo, Long Beach barangkali sebulan gak cukup. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan pesisir samudera beserta desa nelayan, hutan perawan, dan perkebunan anggur. Lebih top lagi gak butuh kartu e-toll!

Usai check-in di Holiday Inn, San Diego Old Town kami makan malam heboh di Rockin’ Baja Lobster Bar & Grill. Tentu saja harus membongkar bagasi dulu dari rooftop. Baru aja sempat meluruskan pinggang yang serasa rontok, Sonny mengumumkan program esok hari: “Usai sarapan, kita muterin Old Town dan makan siang di Westfield Mall, Horton Plaza, sebelum golf ronde pertama di Torrey Pines. Abis golf balik ke hotel jemput ibu-ibu, cari resto untuk makan malam, terus langsung ke Palm Springs. Mobil 1 jangan lupa tarok golf bag lagi di atap, ya.” Alamak!

2018 Fortuga West Coast Tour: TRAVELING WITH TIGER

“Torrey Pines”

Bahkan setelah lewat satu dekade memori kemenangan terakhir Tiger Woods dalam turnamen major muncul membanjiri pikiran gue bagai air bah. Gue sengaja berdiri sendiri di samping starter hut, dekat lubang 1 par-4 South Course, padang golf Torrey Pines, yang mengarah ke Samudera Pasifik. Kemenangan itu membuktikan bahwa manusia bisa mewujudkan segala tekadnya berbekal harapan dan komitmen.

Persis 10 tahun lebih 10 hari yang silam – tepatnya 10 Juni 2008, ketika teriakan membahana puluhan ribu spektator menggema di sepanjang tebing, turun sampai ke Black Beach, menjadi bisikan yang terus melantun sampai ke ujung samudera. Bulu kuduk gue merinding, ogah berdiri terlalu dekat dari layar TV (khawatir ketendang!). Teringat jelas detak jantung gue yang gak karuan menyaksikan putting Tiger untuk birdie di lubang 18 par-5 dari jarak 4 m turun berbelok, memutari rim dan masuk! Putting yang bikin Rocco Mediate harus kembali lagi Senin esoknya untuk bertarung dalam playoff 18 lubang. Melawan seorang legenda yang prestasinya mulai menurun sejak ditinggal sang Ayah (Earl Woods wafat 3 Mei, 2006), yang terpincang sambil menyeringai kesakitan sejak latihan hari Rabu akibat cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament) pada lutut kirinya.

Kami booking untuk 3 flight, untuk tanggal 25 Juni. Dapat tee time mulai jam 15.30. Bisa kelar lah. Kan matahari musim panas terbenam sekitar jam 21.00. Tetap harus buru-buru, sih. Kok gak minta turun pagi atau jam 12an? Menurut Sonny gara-gara kebawelan gue. Sebelum berangkat dia posting konfirmasi booking Torrey Pines di WA Group khusus untuk wisata ini. Keren, kebagian pagi hari. Loh, kok di North Course? Gue langsung japri beliau dengan pesan teramat panjang tentang ‘betapa ironisnya main di Torrey Pines tapi bukan di South Course yang menjadi venue US Open 2008, secara analogis mirip dengan masuk Masjidil Haram di Mekkah tapi gak tawaf mengelilingi Kaabah, hanya langak-longok dari kejauhan.’ Kayaknya doi kesel, karena gue tahu sulitnya dapat slot di South Course. Sebagai properti milik pemda, padang golf indah bersejarah ini anti jadi kacang yang lupa kulit. Slot pagi sampai siang diprioritaskan bagi pegolf lokal. Untunglah masih kebagian, walaupun main bagai mengejar mentari.

Keuntungan merumput sore kami manfaatkan untuk mengeksplorasi Old Town, area bersejarah kota San Diego. Sebenernya gak semua yang ikut wara-wiri. Karena sinar matahasi yang menyengat, Wibowo dan gue memutuskan untuk ngendon minum smoothies sambil nonton tayangan langsung Piala Dunia di Alamo Mexican Cafe di seberang area parkir. Yang bawa istri tentu gak punya pilihan, wajib menemani keluar masuk toko cenderamata (kapokmu kapan om Joey?) Masih sempat pulak makan siang di food court Westfield Mall, Horton Plaza sebelum menuju Torrey Pines yang terletak di distrik La Jolla, 24 km ke arah barat daya San Diego. Non pegolf menunggu di mall. Denger-denger saking bosannya, mereka sengaja beli karcis bioskop yang sedang menayangkan filem The Incredibles 2 untuk tidur.

Dari pelataran parkir, Torrey Pines terlihat rame, bak area piknik bersama. Gue paling demen atmosfir padang golf publik di Amerka maupun UK. Gak sok serius lebay gaya padang golf privat macam Augusta National (katanya). Menunggu sekitar 2 jam dimanfaatkan untuk memborong di pro shop. Paling banyak dipilih tentunya barang-barang berlogo US Open 2021 yang akan kembali digelar di Torrey Pines. Gila banget kalo saat itu Tiger Woods berhasil merebut gelar major ke-18 menyamai rekor Jack Nicklaus, persis menjelang usia 46 juga.

Torrey Pines termasuk lapangan baru, dibanding Pebble Beach yang beroperasi sejak 1919. Dibangun di area bekas barak US Army, Camp Callan dan dibuka tahun 1957. Dua padang golf indah karya William F. Bell ini kemudian didesain ulang. South Course, tahun 2001 oleh Rees Jones, dan North Course oleh arsitek Tom Weiskopf tahun 2016. Course Rating keduanya di atas 75 alias susah banget. Melulu karena tiupan angin laut, dan rumput green jenis poa annoa yang bikin bola bergulir liar. Sejak 1968 kejuaraan PGA Tour – Farmers Insurance Open diselenggarakan di kedua lapangan Torrey Pines tiap akhir Januari. Kamis dan Jumat peserta bergantian main di North dan South. Setelah cutoff, Sabtu dan Minggu hanya di South. Tiger pernah menjuarai event ini 7x. Dia juga memegang rekor skor terendah 22 under bersama George Burns.

Tepat pukul 15.30 flight pertama yang terdiri dari Bakti Luddin, Sapta Kebot, Wibowo dan gue tee off. Ngemong banget kan para senior Fortuga ini. Ngalah narok gue di flight terdepan. Padahal bagi mereka ada kemungkinan gak kelar. Pukulan pertama kami di Torrey Pines selamat maju ke depan. Di lubang 3 par-3 pace melambat. Ini signature hole di South Course, tee off turun menuju green di pinggir tebing. Di latar belakang, orang-orang yang bermain parasailing terus menerus berkeliling menunggu ada yang kecepluk.

Sepanjang permainan gue terus mengingatkan teman-teman se-pairing agar gak buang-buang waktu. Berpacu dengan Matahari! Sayang udah bayar mahal tapi gak kelar. Di tee box lubang 18 par-5, matahari sudah tergelincir menyentuh cakrawala. Kaki langit menyemburatkan warna oranye. Angin laut berhenti berdesir. Suara gagak telah lama menghilang. Lampu listrik di club house dan kamar-kamar lodge di pinggir fairway telah dihidupkan. Sebelum tee off, gue masih sempat cerita buru-buru tentang birdie yang dicetak Tiger Woods dalam ronde regulasi US Open 2008. “Yuk kita tiru birdie-nya,” kata gue sok tau. Bisa lah. Dia dari back tee, kita dari marker putih, kok.

Cilaka! Langit makin redup. Dua flight di belakang udah pasti ga kelar. Bola pukulan ketiga Bakti, Sapta dan Wibowo gak ketemu. Entah terpendam di rough atau nyemplung ke satu-satunya kolam reservoir di lapangan ini. Bola gue ketemu. Dekat pohon di kiri fairway. Mereka nyerah, ogah mukul akibat rabun senja. Gue ngotot pengen tuntas. Karena green terlihat remang, gue salah menduga jarak. Bola mendarat lewat green. Chip untuk 4 on dan 2 putt untuk bogey. Sorry, Tiger!

Dalam playoff hari Senin, Tiger kembali ketinggalan 1 pukulan menuju lubang 18. Tapi karena tee off yang keren dia bisa 2 on, dan mencetak birdie. Sementara Rocco hanya dapat par. Sudden death di lubang 14, dimenangkan Tiger cukup dengan par saja. Brandt Snedeker bercerita: “Senin keramat itu gue berada di bandara. Puluhan orang mengerumuni TV menonton playoff. Banyak yang sengaja ketinggalan pesawat. Itulah kharisma seorang Tiger Woods.” Saat sudden death beberapa penonton menyemangati Rocco: “Come on Rocco, give it your all.” Dia mejawab terengah: “What the hell do you think I’ve been doing all day?”

Balik ke hotel untuk mengambil titipan koper-koper, kami menjemput para istri di Westfield Mall, dan makan malam bareng di The Asian Bistro, University Avenue, downtown San Diego. Karena makan nasi, di hotel para pegolf dengan sigap kembali menumpuk golf bag di roof top. Perjalanan malam masih panjang, sekitar 217 km menuju La Quinta, Palm Springs, memakan waktu 3 jam melewati jalan sempit berkelok membelah gurun bergunung, Martinez Mountain. Terus terang gue salut dengan ketabahan dan ketangguhan raga para sopir yang udah berusia kepala enam. Golf makes you stronger!

Amrie Noor – IGC Chief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *