Bincang-Bincang Sesar Lembang 2018

BINCANG-BINCANG SESAR LEMBANG: ancaman dibalik keindahan

oleh : Hardjo Basuki Soenandar TA73

Acara ini merupakan salah satu bagian didalam Fortuga Hiking Rally menyambut ulang tahun Forum Tujuh Tiga alumni ITB tahun masuk 1973 (Fortuga) yang ke 45. Acara utama Fortuga Hiking Rally ini akan dilaksanakan di awal bulan September 2018, bertempat didaerah perbukitan Bandung Utara, sebagai titik awal dan akhir dipusatkan di Taman Hutan Raya Ir. H.Djuanda (Tahura). Awalnya diharapkan informasi tentang Sesar Lembang akan diberikan kepada seluruh peserta hiking untuk menambah pengetahuan tentang fenomena geologi yang berperan membentuk bentang alam yang khas disepanjang perbukitan Bandung Utara dan hamparan lembah Lembang-Maribaya. Lintasan Fortuga Hiking Rally ini terdiri dari kombinasi dataran tinggi dan dataran rendah yang melintang arah barat-timur. Titik utama dari dataran tinggi dikenal sebagai Tebing Keraton dan Gunung Batu, sedangkan dataran rendahnya dikenal sebagai lembah Lembang dan Maribaya. Bentang alam dataran tinggi Tebing Keraton-Gunung Batu dan lembah Lembang-Maribaya dipisahkan oleh suatu bidang patahan alam yang dikenal sebagai Sesar Lembang

Terjadinya gempa bumi di Lombok Utara beberapa hari sebelumnya telah membuat acara talk show ini menjadi serius. Akibat dari gempa bumi yang pusat gempanya di Lombok Utara ini dampaknya sangat kuat dirasakan sampai ke Pulau Bali dan menimbulkan kepanikan yang menelan korban jiwa ditempat menginap para rombongan tamu undangan dari Bandung dan Jakarta yang saat itu baru saja menghadiri peresmian patung Garuda Wisnu Kencana hasil karya Nyoman Nuarta. Cerita pengalaman menyaksikan akibat gempa bumi yang dialami para tamu undangan khususnya yang berdomisili disekitar Bandung telah membuat topik tentang Sesar Lembang menjadi lebih menarik, terlebih setelah mendengar penjelasan dari BMKG bahwa gempa bumi di Pulau Lombok itu dipicu oleh gerakan Sesar Flores (back arc thrust) yang arahnya barat-timur, sama arahnya dengan Sesar Lembang, dan keduanya sejajar dengan zona subduksi, yang berbeda hanya Sesar Lembang jenisnya strike slip kearah kiri sedangkan Sesar Flores jenisnya backarc thrust

Acara talk show Sesar Lembang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2018 di Ruang Pertemuan Harian Pikiran Rakyat- Bandung dengan menghadirkan 2 orang nara sumber yaitu Prof Ir. Benyamin Sapiie PhD- Geodynamic Research Group ITB dan Ir. Danny Hilman Natawidjaja PhD- Puslit Geoteknologi LIPI. Pelaksanaan presentasi telah dipandu oleh Bp. T. Bachtiar- penulis buku Cekungan Bandung Purba. Informasi yang telah disampaikan oleh kedua nara sumber tersebut mencakup apa dan mengapa Sesar Lembang disebut sebagai sesar aktif. Karakter dari Sesar Lembang juga ditayangkan berdasarkan hasil riset terkini. Kedua nara sumber selain menyajikan bukti penelitian di Sesar Lembang juga memberikan estimasi besaran potensi gempa yang akan ditimbulkan akibat pergeseran dari Sesar Lembang tersebut. Acara talk show diakhiri dengan tanya jawab sebanyak 3 sesi dipimpin oleh moderator.

Hasil diskusi antara lain telah menyadarkan masyarakat Bandung dan sekitarnya bahwa dibalik anugerah keindahan alam yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta, sebagai balasannya kota Bandung dan sekitarnya juga harus siap menerima ancaman bencana alam dalam bentuk letusan gunung berapi maupun bencana gempa bumi. Agar cobaan alam itu tidak merugikan kehidupan manusia, maka masyarakat harus mengerti bagaimana cara mengkaji tanda-tanda alam yang mengindikasikan potensi bencana alam, kemudian menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Informasi dari DR Danny Hilman bahwa pergeseran di Sesar Lembang berpotensi diperkirakan menimbulkan gempa sebesar magnitude M 5.8 dengan pusat gempa pada kedalaman 138 km. Informasi ilmiah ini sebaiknya jangan dijadikan menjadi sesuatu yang menakutkan masyarakat awam, akan tetapi justru menjadi pedoman apa yang harus diantisipasi sebelum ancaman gempa datang tanpa bisa diduga sebelumnya. Tindakan awal didalam menghadapi gempabumi adalah menyiapkan jalur evakuasi yang aman. Tindakan berikutnya menyiapkan bahan makanan dan minuman untuk bertahan hidup sampai bantuan pertolongan datang. Antisipasi lainnya pengetahuan tentang sifat fisik batuan, bahwa bangunan yang berdiri diatas batuan yang gembur tanpa fondasi yang dalam akan diguncang gempa bumi lebih kuat dibandingkan dengan bangunan yang dibangun dengan fondasi menembus batuan yang keras. Untuk aspek pendidikan nasional, sudah tiba saatnya pendidikan ilmu kebumian tidak hanya diarahkan untuk mengenal jenis batuan beserta sifat fisiknya untuk mencari dan menggali sumber daya alam dari dalam bumi saja, tetapi juga harus dituntaskan bagaimana melakukan mitigasinya secara cepat dan tepat khususnya didalam menghadapi bencana alam, tanggung jawab moral selanjutnya adalah membagi semua pengetahuan tentang ilmu kebumian kepada masyarakat awam.

Ditinjau dari sudut seismisitas, gempa di Pulau Jawa didominasi oleh gempa yang berkaitan dengan gerakan subduksi serta sesar-sesar yang berkembang didaratan. Secara regional posisi Sesar Lembang diapit dibadian barat oleh Sesar Cimandiri, dan relatif kesebelah timur laut oleh Sesar Baribis. Ditinjau dari rekaman sejarah kegempaan periode tahun 2009 s/d 2015, Sesar Cimandiri mengalami 10 kali gempa, Sesar Baribis 6 kali gempa, dan Sesar Lembang pada periode itu 4 kali gempa, sehingga ditinjau dari frekwensi gempa yang dialami pada periode tahun 2009 s/d 2015 maka Sesar Lembang termasuk relatif paling tenang dibandingkan kedua sesar lainnya. Besar kecepatan zone subduksi dari lempeng Indo-Australia yang bergerak mendesak kearah utara sekitar 60 mm/tahun. Ditahun 1994 dan tahun 2006 zone subduksi yang agresif ini telah menimbulkan gempa sebesar magnitude M 7.8, pada saat itu mengakibatkan tsunami dipantai selatan Pulau Jawa. Kecepatan pergeseran dari Sesar Lembang 2.5 mm/tahun, Sesar Baribis 2.3-5.6 mm/tahun, Sesar Sumatra 10-15 mm/tahun dan Sesar Flores 28 mm/tahun. Ditinjau dari segi kecepatan pergeseran maka Sesar Lembang relatif sama dengan Sesar Baribis. Informasi dari BMKG bahwa Sesar Flores yang kecepatan pergeserannya 28 mm/tahun telah menimbulkan gempa bumi di Lombok Utara dengan kekuatan M 7.8 dan kedalaman pusat gempanya hanya 15 km, karena pusat gempanya dangkal telah mengakibatkan kerusakan parah semua bangunan disekitarnya. Membandingkan antara Sesar Flores dengan Sesar Lembang, ditinjau dari kecepatan gesernya Sesar Flores (28 mm/tahun) besarnya 10 kali lipat dari Sesar Lembang (2.5 mm/tahun), gerakan geser dari Sesar Flores menghasilkan besaran gempa sebesar M 7.8 dengan pusat gempa di Lombok Utara pada kedalaman 15 km, sedangkan akibat dari gerakan geser di Sesar Lembang, nara sumber memperkirakan berpotensi untuk menghasilkan gempa sebesar M 5.8 dikedalaman 138 km. Estimasi kedalaman pusat gempa di Sesar Lembang ini sangat menentukan derajat kerusakan yang akan ditimbulkan. Dengan tambahan informasi bahwa periode gempa di Sesar Lembang sekitar 400 tahun sekali, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan data teknis yang ada saat ini maka Sesar Lembang dapat digolongkan sebagai sesar aktif yang tenang, namun Pemerintah dan masyarakat Bandung tetap harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan terhadap perubahan ulah dari Sesar Lembang ini agar kita semua masyarakat Bandung dan sekitarnya tetap bisa hidup secara harmonis dengan semua bencana alam yang mengelilinginya

Penutup, ucapan terima kasih disampaikan kepada Prof. Benyamin Sapiie PhD; Ir, Danny Hilman Natawidjaja PhD, pak T. Bachtiar, pak H. Syafik Umar- Harian Pikiran Rakyat, mas Muhammad Ridlo Eisy, kang Vicky Gosal, mbak Ingkan Harahap, kang Wahyu Priatna, Panitia Ulang Tahun Fortuga ke 45,atas dukungannya sehingga acara talk show telah berlangsung dengan lancar

Referensi:
Prof. Benyamin Sapiie, Efek Aktifitas Sesar Lembang Untuk Bandung dan Sekitarnya, presentasi di acara Fortuga-Berbincang Sesar Lembang, Ruang Pertemuan Harian Pikiran Rakyat, 8 Agustus 2018

Danny Hilman Natawidjaja PhD, Memahami dan Mengantisipasi Sesar Lembang, Jawa Barat, presentasi di acara Fortuga- Berbincang Sesar Lembang, Ruang Pertemuan Harian Pikiran Rakyat, 8 Agustus 2018

PuSGeN, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, Puslitbang Perumahan dan Permukiman,377 halaman

Sutopo Purwo Nugroho, Update Penanganan Bencana Gempabumi 7 SR di NTB, Konferensi Pers, Jakarta 8 Agustus 2018, Ka Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

One thought on “Bincang-Bincang Sesar Lembang 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *