Fortuga Virtual Gathering ke 8

Fortuga Virtual Gathering ke 8 dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2021 , Judul “Teknologi 5G dan Kiat Memilah Konten di Internet”, dibawakan oleh Ashwin Sasongko EL73

Presentasi oleh Ashwin Sasongko EL73

Tanya Jawab Teknologi 5G dan Kiat Memilih Konten di Internet Bersama Ashwin Sasongko EL73

Peserta Zoom 135 Orang

This image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-30-at-19.35.12-1024x640.pngThis image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-30-at-19.35.19-1024x640.pngThis image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-30-at-19.35.25-1024x640.pngThis image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-30-at-19.35.32-1024x640.pngThis image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-30-at-19.35.37-1024x640.png
Download Makalah Fortuga Virtual Gathering ke 8

Tonny Iskandar :

Virgat Fortuga semalam memang luar biasa. Pemaparan Aswin mengenai Internet benar-benar menyadarkan kita, ini jaman yang sedang kita hidupi.
Ketergantungan kita pada penguasa teknologi hampir di semua aspek seperti, komunikasi, keuangan, data pribadi, industri dan lain sebagainya yang terkait dengan dunia digitalisasi internet.
Saya melihat keterkaitannya dengan Pemaparan Inge sebelumnya tentang Pendidikan “Merdeka Belajar” yang berdasarkan Digital Thinking, yang sebenarnya berdasarkan pokok pikiran Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, untuk mengubah generasi “pemakai teknologi” mejadi “pemikir teknologi”.
Yang artinya membangun generasi yang kreatif – inovatif.
Memang banyak anak-anak muda milenial yang kreatif, tetapi sedikit yang inovatif, seperti yang dikatakan Sapta, bahwa hacker Indonesia ditakutin dunia. Banyak yang pinter “terima bongkar, ngga’ terima pasang”, artinya kreatif dalam hal yang tidak membangun, seperti hacker, pembuat virus internet, kalau kita lihat di youtube, tutorial membuka situs-situs yang diblocking itu banyak sakali dari Indonesia. Memang dulu pernah ada anak kecil yang membuat antivirus, tetapi sudah tertinggal dengan perkembangan internet yang begitu cepat.
Sepuluh tahun lalu kita tidak dapat membayangkan HP yang bisa telpon, sms, main game sederhana bisa menjadi Smartphone seperti sekarang, yang selain bisa untuk telepon, sms, main game, jadi kamera, video, pemutar video, video call, penunjuk jalan, berbagai media sosial (fb-instagram-twiter), bisnis online, zoom meting dengan bermacam-macam aplikasi dengan biaya murah. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana smartphone 20 tahun kedepan, mungkin bisa menjadi supir kendaraan kita, dengan teknologi 5G bisa untuk mengoperasikan alat-alt berat di daerah berbahaya di daerah petambangan, sedangkan operator haya duduk di kantor yang jaraknya ratusan kilometer dari lokasi kerja.
Hanya orang orang yang kreatif-inovatif bisa jalan di depan.
Kemajuan selalu membawa peubahan, perubahan selalu meninggalkan korban. Seperti pertanyaan Hatta kemarin, Apakah kemajuan teknologi internet satelit dapat dihambat supaya tidak berdampak kerugian besar yang harus ditanggung dalam pembangunan jaringan kabel FO. Jawabannya Tidak bisa.
Saya teringat waktu Komeng mau membangun Monumen Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe di Ujung-Surabaya. Komeng melihat bangkai trafo 110 volt di PLN seluruh Indonesia, karena perubahan tegagan PLN menjadi 220 volt. Komeng punya ide supaya PLN menyumbangkan bangkai trafo itu ke AL untuk diambil kabel tembaganya untuk bahan patung JJ. Dan itu terealisasi. Itu butuh berpikir kreatif inovatif.
Paparan Nani mengenai pengolahan sampah itu juga perlu Berpikir kreatif, apapun skalanya.
Jadi jawaban dari sebagian besar pertanyaan temen temen tadi malam, mengenai ketergantungan bangsa kita pada penguasa teknologi adalah membangun generasi berpikir teknologi yang inofatif, bukan lagi generasi pemakai teknologi. Memang kita generasi baby boomer tidak lahir di era teknologi digital, jadi gaptek boro-boro brpikir kreatif (minimal diri saya sendiri).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *