Bhakesra Kupang-Labuhan Bajo September 2013


Catatan Perjalanan  Kupang-Labuan Bajo (6-15 Sept 2013)

Oleh Lienda Aliwarga TK73

Kupang (6-7 Sept 2013)

Perjalanan dari Jakarta menuju Kupang dengan pesawat yang memakan waktu sekitar 4 jam berjalan relatif lancar. Bandara Kupang memiliki taxi resmi dengan sistem sekali drop atau bisa disewa harian dengan harga sekitar Rp 400 ribuan untuk waktu 8 jam.  Di Kupang terdapat pula angkot yang disebut dengan bemo berkapasitas sekitar 11 orang, lebih bersih dibanding angkot yang biasa kita kenal di Jakarta atau Bandung….lengkap dengan musik yang bagus kualitas suaranya….lagunya sebagian besar lagu barat atau lagu anak muda gaul euy…

Saat saya dan Kemas tiba di bandara sekitar jam 3 sore, tim Fortuga sedang sibuk ke lapangan, sehingga yang dapat ditemui hanya Ki Ojon yang juga belum lama tiba di Kupang….syiik asyikk, diajak Ki Ojon makan seafood di resto pinggir pantai … memang sedang lapar karena di Lion tidak ada suguhan…berempat bersama dengan Yudha putra Ki Ojon kami menikmati menu khas daging Se’i yang sedap, ikan panggang segar  dan bunga pepaya

..

menjelang sore sebagian anggota Fortuga telah kembali dari kegiatan dan berkesempatan bergabung …hehe acara makan di sambung lagi…

hari ini makan ber tubi2,  malamnya diundang Kang Ali Herman bersantap di Resto Pantai Laut dengan daging Se’i yang juga sangat lekker, lengkap dengan jagung pulut, yang berbeda dari jagung biasa….berwarna putih dan terasa sangat pulen…

Jam 22 waktunya apel di kapal yang diikuti oleh sekitar 170an orang. Ini kali pertama saya memasuki kapal dan kamar yang ditempati 12 orang anggota Fortugawati plus satu penyanyi dangdut. Kamar kira2 berukuran 4×8 m2 diisi dengan 5 tempat tidur bersusun dua yang diletakkan dalam 2 deret saling berhadapan. Bagian tengah yang lowong diisi dengan 3 matras sebagai tempat tidur tambahan…hehe tidur massal begini mengingatkan akan masa mahasiswa saat kumpul2 dulu…kamar berhawa dingin sehingga kantung tidur atau selimut memang perlu agar bisa tidur tanpa kedinginan.

Hari kedua di Kupang merupakan hari bebas yang diisi dengan jalan2 dan melihat berbagai produk setempat seperti tenun2 ikat yang indah, souvenir khas Kupang/NTT, a.l. alat musik sasando yang mengagumkan… terbuat dari daun lontar, topi orang Rote nan cantik

, minyak cendana yang mulai langka, sehingga harganya menjadi sangat mahal… Rp. 350 ribu untuk sekitar 10ml, penganan khas Kupang/NTT seperti Manggulu yaitu dodol pisang yang diberi kacang dan dibungkus daun, gula air dan gula lempeng yang terbuat dari nira lontar … menurut penduduk setempat gula ini juga aman untuk yang berpenyakit diabetes, kripik kulit sapi yang sedap  dll.  Oya, menurut beberapa info tenun ikat di Kupang banyak didatangkan dari luar daerah termasuk Rote, sehingga beberapa teman menunggu untuk mencari tenun ikat di Rote….

Malam ini perjalanan dilanjutkan ke Pulau Rote….


Pulau Rote (8 Sept 2013)

 

Rute Kupang – Rote ditempuh di tengah malam dan memakan waktu sekitar 4 jam.  Ini adalah kali pertama saya mengikuti pelayaran sejak masuk ke kapal. Saat membuka mata di pagi hari, terlihat benda-benda di sekitar ber-goyang2….sejenak saya pejamkan mata dan membukanya lagi, tapi benda2 tetap bergerak turun naik….wah, apa yang terjadi? Apa tiba2 saya kena vertigo?..sesuatu yang hampir tak pernah saya alami… tetapi kemudian teman2 sekamar yang sudah familiar dengan goyangan kapal mengatakan bahwa bukan vertigo tetapi kapal yang bergoncang karena ombak. Ternyata memang laut di sekitar tempat yang dilalui merupakan pertemuan arus dari laut Sawu, Samudra Hindia dan Laut Timor, sehingga ombak menjadi besar…dapat lebih besar daripada di Laut Jawa….Oo begitu rupanya saat kapal berayun….:-)

Turun dari dermaga rombongan telah ditunggu oleh pihak Pemda setempat, tim energi, tim pendidikan misalnya telah disambut oleh pic nya masing2. Tetapi saya dan Maman yang masuk dalam tim air belum mempunyai kontak. Saat masih mencari-cari transportasi untuk meninjau air, kami didekati oleh seseorang yang ternyata adalah Kabag Kesra Pemda, Pak Lenggu yang kemudian menawarkan diri untuk mengantar kami ke tempat sumber air.

Wah, senangnya didampingi oleh Pak Lenggu, karena selain simpatik dan enak tutur bahasanya, Pak Lenggu juga mempunyai banyak informasi tentang Pulau Rote dan keadaannya, misalnya tentang buah Kosambi yang sangat banyak .. biji buah Kosambi banyak mengandung minyak ….dulu sering digunakan untuk menggantikan lilin sebagai penerangan… apakah mungkin  diteliti untuk dimanfaatkan sebagai biofuel? Rote tidak mempunyai SPBU, sehingga bbm diangkut melalui laut dari Kupang yang lama perjalanannya berkisar 3-4 jam. Akibatnya harga premium di P. Rote – yang dijual dalam botol-botol – berkisar antara Rp. 8.000 – 10.000 per liter. Belum lagi di bulan Desember – Februari, ketika gelombang cukup besar. Di saat-saat tsb hanya mobil bupati yang bisa melaju di jalan karena langkanya bbm. Selain itu dari pohon kosambi dihasilkan pula bahan pembuat sirlak.

Juga mengenai buah lontar yang berlimpah tapi belum termanfaatkan dengan baik. Umumnya lontar diambil niranya untuk dijadikan gula air, gula lempeng atau minuman seperti tuak yang agak rendah kadar alkoholnya atau sofie, minuman khas Rote yang kadar alkoholnya dapat mencapai 40%. Terkadang dihasilkan pula alkohol dengan kadar 70%  untuk keperluan medik. Gula air merupakan minuman istimewa….sering dengan hanya berbekal sebotol gula air, para petani mampu bekerja seharian di ladang tanpa merasa lapar atau lesu…. Oya, seperti yang disebutkan sebelumnya, gula dari lontar aman untuk para penyandang diabetes….wah, barangkali bisa menjadi saingan gula stevia yang berasal dari Amerika Selatan ya? Begitu juga buahnya dibiarkan menua dan jatuh dari pohon…sayang sekali ….padahal buah lontar muda sangat enak dan banyak penggemarnya  di Jakarta….

Di sebutkan pula bahwa Rote menghasilkan kopra dalam jumlah sangat besar, sedikitnya sekitar 300ton/bulan, tetapi tempurung dan sabutnya yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dibuang atau dibakar begitu saja…sekali lagi, sayang sekali… Rote juga mempunyai hasil laut yang sangat baik, rumput laut, teripang merupakan komoditi andalan yang dijual melalui kota Makassar atau Surabaya.

Satu hal yang urgent untuk segera ditangani adalah penyakit AIDS yang melanda penduduk Rote. Saat ini tercatat 9 orang terinfeksi dan satu diantaranya telah meninggal. Jumlah ini sangat besar mengingat penduduk Rote hanya sekitar 96.000 orang dan AIDS merupakan penyakit yang sejauh mungkin dirahasiakan oleh sang keluarga, sehingga jumlah yang sesungguhnya akan jauh lebih besar dari angka di atas.

AIDS di Rote terutama disebabkan oleh banyaknya orang Rote bekerja di kota Atambua, yang mempunyai kasus AIDS tinggi, yaitu sekitar 300 di antara 300.000 penduduk. Mengingat tingginya prevalensi AIDS di Rote, Pemda setempat telah mendirikan balai penangggulangan AIDS, tetapi kemampuan daerah sangat terbatas. Karena itu bantuan dari Pusat sangat diharapkan.

Penduduk Ba’a memperoleh air bersih dari mata air atau sumur2 yang dibor atau digali, atau melalui truk tanki yang mendeliver air dari mata air dengan harga Rp. 50ribu per 5000l. Kami sempat meninjau dua mata air di Ba‘a, yang juga digunakan oleh penduduk untuk mandi dan cuci di tempat. Cuaca di Rote panas dan terik, meskipun begitu, di musim kemarau yang berlangsung selama 6 bulan, debit air tidak berkurang secara signifikan.

Selain meninjau mata2 air, kami juga diantar melihat-lihat a.l. kantor bupati yang mempunyai atap unik seperti topi Rote

beberapa produk setempat seperti kacang tanah besar, udang ebi yang sangat baik kualitasnya dan tenun2 ikat. Tidak banyak yang dapat dilihat karena saat itu hari Minggu, sehingga sebagian besar toko tutup.

Masyarakat Rote banyak yang berkulit putih bersih dengan raut cantik/tampan seperti Indo, meski ada beberapa yang berkulit lebih gelap.  Yang patut dicatat adalah masyarakatnya jujur, ramah dan mempunyai rasa kekerabatan yang erat.  Sebagai contoh, barang-barang yang diletakkan di dalam mobil tidak akan hilang meski mobil ditinggal dengan pintu tak terkunci.  Pintu rumah Pak Lenggu dibiarkan terbuka lebar meski tidak ada orang di rumah sejak siang hingga malam hari tanpa ada barang yang hilang. Saat kami diajak Pak Lenggu ke rumah temannya untuk melihat tenun ikat, kelapa khusus dipetik

untuk disuguhkan dengan keramahan sekeluarga yang mengesankan

Memang di antara rumah2 penduduk hampir selalu dijumpai pohon lontar atau kelapa. Karena teriknya matahari di Rote maka kelapa di Rote sangat baik kualitasnya, pohon yang rendahpun telah menghasilkan buah yang banyak dan besar, dagingnya tebal dan lebih bersantan dibanding yang umumnya dijumpai di pulau Jawa.

Kami juga sempat diajak melihat istana raja Rote yang tidak jauh dari pelabuhan. Istana dibangun beberapa abad yang lalu

Saat ke sana, hari sudah gelap dan di bagian gedung utama, tidak terdapat penerangan. Ada sedikit suasana misterius saat memasuki halaman istana, mungkin karena keadaan yang agak gelap?.

Pak Lenggu memanggil-manggil penghuni rumah, tetapi tidak seorangpun keluar. Saat akan pulang kami berpapasan dengan yang empunya rumah yang baru saja kembali dari bepergian dan kami dipersilahkan masuk.

Interior istana amat mirip dengan istana atau gedung2 kuno Eropa. Langit2, pintu kayu yang tinggi2, jendela2 kayu yang juga tinggi, terdapat pula meja marmer putih masih sering kita jumpai saat kita masih kecil, mebel kuno bergaya Belanda dengan kayu masif yang berat sekali

Oh ya Pak Lenggu ternyata merupakan cucu salah seorang Raja Rote.

Tidak terasa malam telah tiba …..saatnya kembali ke kapal untuk meneruskan pelayaran ke P. Sabu…. Thanks a lot for your hospitality Pak Lenggu …..bye Pulau Rote…I’ll see you again someday…


Pulau Sabu (P. Savu, P. Sawu, 9 Sept 2013)

Kapal bertolak dari P. Rote pada sekitar jam 11 malam  dan tiba di P. Sabu kira-kira jam 6 pagi. Laut yang dilewati relatif tenang, tidak ada goncangan di kapal. Tiba di Sabu,  kapal tidak dapat merapat. Untuk menyeberang tidak  digunakan LCVP (Landing Craft, Vehicle, Personnel) yaitu kapal kecil yang biasa dipakai untuk menyeberang bila KRI tidak bisa bersandar. Yang digunakan adalah kapal setempat, mungkin karena perairan P. Sabu dangkal dan berkarang.

Saya tiba di balai desa sebagai rombongan ke dua…pada saat itu balai desa telah penuh, baik oleh orang Pemda setempat maupun oleh rombongan Bhakesra. Seperti biasa, masing2 tim Fortuga  mencari pic terkait. Saat saya dan Maman mencari pic, kami didekati oleh dua orang, yaitu Pak Willy dan Pak Mesakh, yang mengatakan akan mengantar kami melihat sumber air.

Wah, ternyata Bapak2 itu adalah staf ahli Bupati. Saya sempat ragu….staf ahli bupati yang mengantar? Bukannya mereka sepantasnya mengantar para pejabat?…..Tapi baik Pak Willy maupun Pak Mesakh meyakinkan untuk mengantar kami…sepanjang jalan Pak Willy maupun Pak Mesakh banyak bercerita dan berkelakar … Pak Willy juga ternyata sangat terampil membawa mobil meski jalan yang dilalui sering sangat sulit karena bebatuan atau memang belum dibuat jalan…  rupanya  Pak Willy sudah terbiasa pergi ke pelosok2.

Di bawah cuaca yang panas dan kering, di sela batu kapur/karang, sepanjang jalan banyak terlihat berbagai pohon seperti lontar, kedondong hutan, pohon memo dll. Serupa dengan di P. Rote,  lontar diambil niranya untuk dijadikan gula, a.l. gula semut yang bisa digunakan sebagai pemanis kopi atau dimakan bersama roti. Atau gula Sabu yang lebih kental dan berwarna lebih gelap dibandingkan gula air di Rote. Gula Sabu dibuat dengan memasak langsung nira lontar yang disadap sehingga tidak mengandung tanin. Oleh sebab itu gula Sabu juga dimanfaatkan untuk mengobati penyakit maag.

Masyarakat Sabu umumnya berkulit agak gelap dan berambut lurus, tidak seperti etnis Maluku yang banyak berkeriting. Mereka sangat dekat dengan alam, mampu menggunakan banyak tumbuhan sekitar untuk obat2an. Sebagai contoh akar pohon Memo merah dapat dimanfaatkan untuk pengobatan kanker. Saya hanya berhasil memotret pohon memo kuning

Sempat pula kepada saya ditunjukkan tumbuhan seperti benalu yang dipakai untuk mengobati  kista atau myom.

Sabu juga kaya dengan tenun ikat. Menurut Pak Willy, kualitas tenun ikat Sabu lebih baik dari pada tenun Rote, lebih halus karena benangnya bermutu lebih tinggi. Selain itu Sabu banyak menghasilkan bawang merah dengan kualitas sangat baik, juga kacang yang dijual ke Kupang, Makassar dan Surabaya. Di beberapa tempat tampak kerbau, kuda dan kambing dilepas di ladang untuk mencari makan…..hasil peternakan ini umumnya dijual ke Makassar dan Surabaya,

Rumput laut sebagai salah satu produk laut andalan P. Sabu dikirim ke Makassar, Surabaya dan Sumba dengan harga yang berkisar Rp. 9.000-14.000 per kg. Budidaya rumput laut ini baru mulai berkembang lagi setelah hancur karena tumpahan minyak dari kapal tanker beberapa tahun yl, yang tidak hanya merusak ekosistem di sekitar laut Sawu, tetapi juga membinasakan mata pencaharian penduduk. Klaim kepada Australia untuk ganti rugi tidak juga membuahkan hasil.

Serupa dengan Rote, Sabu tidak mempunyai SPBU …minyak didatangkan dari Kupang dengan waktu tempuh sekitar 20an jam menggunakan kapal laut. Harga bensin di Sabu dapat mencapai Rp. 50ribu per liter. Sungguh harga yang luar biasa tinggi. Gelombang laut Sawu di bulan Juni dan Juli, serta Januari – Maret dapat mencapai 7 m sehingga hubungan laut terputus. Untuk antisipasi, biasanya stok sudah diangkut sebelum bulan2 tsb. Tetapi bila cuaca berubah di luar keadaan normal, di Sabu akan terjadi kelangkaan BBM, seperti sewaktu bulan Juni-Juli yl. Barangkali pohon kosambi yang banyak terdapat di Sabu dapat berkontribusi sedikit untuk mengurangi langkanya bbm? Sayang sekali saat kunjungan bukan sedang musim buah kosambi, sehingga foto tidak dapat diambil.

Menurut Keterangan Pak Willy, terdapat sumber minyak di Menia, gas alam di Kecamatan Liae dan Mangan di hampir semua daratan Sabu.

Keperluan air bersih dipenuhi a.l. oleh sejumlah mata air yang meski di musim kemarau tidak banyak berkurang debitnya. Kami sempat mengunjungi mata air Menia dan mata air di gua Liemadira

 

. Menurut Pak Willy, di dalam gua terdapat jenglot, yaitu manusia yang sudah sangat tua, ratusan tahun umurnya dan tingginya hanya sekitar 30 cm. Saya terperangah….apakah yang dimaksud itu roh atau betul manusia? Apakah 7 kurcaci dalam cerita Putri Salju betul ada? Apa betul ada manusia yang bisa hidup ratusan tahun…. Wah….kalau sudah begini mesti konsultasi dengan orang2 sakti Fortuga, Ki Ojon, Mbah Jarot; mas Bambang SP……

Menurut Pak Willy, jenglot berasal dari manusia sakti yang ditolak oleh bumi. Terdapat di semua daerah, banyak di P. Timor dan di Sabu adanya di gua Lie Madira tersebut. Sebenarnya selain berniat melihat mata air saya juga akan diajak untuk melihat jenglot di gua. Antara ingin tahu dan rasa waswas, saya mengikuti…. tetapi karena penjaga gua belum datang rencana menyaksikan sosok misterius tersebut tidak terlaksana. Konon jenglot mempunyai pemilik, dan di Timor satu orang bisa memiliki 3 atau lebih jenglot, yang biasa dipakai untuk berperang.

Dalam kedekatan masyarakat Sabu dengan alam, mereka percaya, setiap benda selalu ada yang menjaga, sehingga bila misalnya akan memindahkan batu, kita perlu kulonuwun dulu. Masyarakat Sabu mempunyai kepala suku, disebut Mone Ama, yang mempunyai kekuatan di atas manusia biasa. Pernah ada kapal feri terdampar di pantai yang sempat kami kunjungi

Semua kendaraan berat tidak mampu menarik feri tersebut. Mone Ama dari suku Namata kemudian berhasil menariknya hanya dengan selembar benang hitam….wah….

Tidak terasa hari semakin sore, matahari mulai merambat ke tempat persembunyiannya….alangkah cantiknya melihat bola emas dari kejauhan

diiringi angin semilir yang mulai dingin…..hari semakin gelap…sebentar lagi tiba saatnya meninggalkan Pulau Sabu yang penuh misteri menuju Sumba…… Terimakasih Pak Willy, terimakasih Pak Mesakh…hari ini menjadi hari yang menyenangkan dan penuh kesan…….  adieu Pulau Sabu….same as Pulau Rote, I’ll see you again someday


Sumba (10-11 Sept 2013)

Setelah berlayar belasan jam dari P. Sabu, KRI merapat di Waingapu, Sumba Timur, di sekitar jam 6 pagi. Kegiatan hari pertama adalah koordinasi dengan Pemda untuk menyiapkan kunjungan lapangan keesokan harinya.

Bersama tim energi, kami tim air menemui Bpk Daniel Lalupenda, Kadis Pertambangan dan Energi yang menjelaskan a.l. tentang Sumba yang direncanakan menjadi pusat pengembangan energi terbarukan, air terjun di Maidang dengan head 25m yang akan menghasilkan energi 250 kWh, PLTS tahun ini terpasang 12 unit secara tersebar untuk 215 KK dan 1 unit terpusat 500 kWh (?) yang kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi dua kali lipat. Meski telah mempunyai PDAM, kurang dari 50% penduduk dapat mengakses air bersih dengan mudah. Selebihnya kadang harus melewati bukit sejauh 2-5 km untuk mendapatkan air. Di tempat2 tertentu air diperoleh dari sumur2 sedalam sekitar 10m. Yang menggembirakan, meski kemarau panjang biasa terjadi di Sumba, mata2 air tidak pernah menjadi kering.

Acara kunjungan lapangan akan berlangsung pada hari kedua, karena itu ada waktu kosong yang dapat dimanfaatkan untuk mengunjungi beberapa tempat istimewa di Waingapu.

Megalithikum di Prailiu, tempat makam raja2 Sumba, yang tidak terlalu jauh dari pusat kota adalah yang pertama dikunjungi. Prailiu berarti kampung raja. Konon dari kampung raja ini lahir raja-raja terkenal Sumba. Saat mencapai lokasi, terlihat beberapa makam dengan batu2 besar yang disangga tiang2 batu, berhiaskan arca dan beberapa relief

Pada batu terdapat pula tulisan nama dan kapan sang raja lahir dan wafat Yang terbaru adalah Raja kerajaan Prailiu, Tamu Umbu Jaka, yang wafat pada 25 April 2008.

Beberapa puluh meter di belakang makam terdapat rumah panggung sederhana, terbuat dari kayu bercat putih dengan atap dari sirap daun lontar. Penghuninya ternyata Ibu Raja, istri mendiang Raja Tamu Umbu di atas. Seperti juga rumahnya, Ibu Raja tampil sangat sederhana, memakai kaos oblong biasa yang dipadukan dengan tenun ikat di bagian bawah. Seuntai kalung berwarna salem menghiasi kaos berwarna merah hati yang dikenakan.

Dengan senyum anggun Ibu Raja mempersilahkan masuk. Di ruang depan tergantung beberapa helai tenun ikat yang sangat cantik, terlihat pula berbagai peralatan untuk membuat tenun ikat. Menurut Ibu Raja, di Sumba setiap wanita harus dapat menenun. Bila tidak, tidak akan ada lelaki yang mau meminangnya. Kepada rombongan ditunjukkan cara membuat termasuk mewarnai benang dan menenunnya

Butuh sekitar 6 bulan untuk menghasilkan sehelai kain yang harganya berkisar Rp. 3 juta. Kain yang sama akan terjual sekitar Rp. 10 juta di Ina Craft, Jakarta.

Karena sangat mengagumi kain yang ada, dengan ramah Ibu Raja menawarkan untuk memakaikan tenun ikat tersebut sesuai adat Sumba, lengkap dengan hiasan kepala yang terbuat dari kulit penyu dan kalung panjang dari batu mutisala

Kalung tidak boleh terlupa, karena penting untuk menunjukkan status sosial seseorang.

Meski tidak berkilau seperti batu permata umumnya, mutisala merupakan bahan alam yang sangat berharga di masa lalu. Saat ini batu tersebut menjadi benda pusaka yang diwariskan turun temurun dan hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Harganya sangat mahal, mencapai ratusan ribu rupiah per butir. Makin tinggi status sosial seseorang, makin banyak koleksi kalungnya. Ketika sedang membutuhkan biaya, kalung dapat digadaikan dengan harga yang bisa menyaingi emas. Kalung atau gelang mirip batu mutisala ini banyak dijual di berbagai tempat, tetapi pembeli harus berhati-hati karena di Sumba sendiri banyak beredar batu tiruan.

Dari Megalithikum perjalanan dilanjutkan ke pantai yang tidak terlalu jauh letaknya. Saat tiba di sana terlihat seseorang memacu kuda menyusuri pantai dengan kecepatan sangat tinggi. Dalam sekejap kuda dan penunggangnya lenyap di horizon. Tak lama kuda melintas balik dengan kecepatan yang sama, bersama penunggang lainnya. Kudanya tidak terlalu tinggi, mirip kuda poni. Penunggangnya ternyata anak laki2 yang masih sangat belia, tapi sangat mahir  dalam memacu kudanya, tanpa pelana, sepatu atau pelindung kepala.

Kami sempat memanggil si pengendara, ingin berkuda karena menduga si anak, seperti di tempat2 wisata umumnya, menyewakan kudanya. Dia menggelengkan kepala sambil tetap melesat kencang dan segera menghilang dari pandangan. Ternyata mereka itu sedang berlatih untuk pacuan kuda yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat di Waingapu.

Rupanya pacuan dengan joki kecil berumur 8-12 tahun bertelanjang kaki tanpa pelana maupun topi pengaman, merupakan tradisi dan acara menarik bagi masyarakat dan secara teratur dipertunjukkan. Di Kabupaten Sumba Timur pacuan yang menggunakan kuda Sumba ini sedikitnya diselenggarakan empat kali dalam setahun. Joki-joki belia sangat terampil dalam berkuda, tapi tak urung kadang terjadi kecelakaan yang fatal karena tiadanya pengaman tadi. Para joki biasanya bersemangat untuk ikut karena juga memperoleh uang dari pemilik kuda, konon sekitar Rp. 50ribu, dan akan sedikit lebih besar jumlahnya jika menjadi juara.

Pada malam harinya kami sempat mengunjungi Taman Hiburan Rakyat (THR) di Waingapu untuk mendukung penampilan band Dangdut dari Tim Bhakesra, yang bertujuan menghibur masyarakat.

THR Waingapu sangat sederhana, berdiri di atas lapangan rumput yang sedang luasnya, agak gelap karena terbatasnya penerangan

Bagian pinggir diisi umumnya oleh kios2 agak besar yang diterangi lampu listrik atau petromax. Sebagian besar berupa kios permainan seperti melempar panah, menembak dengan hadiah pakaian, mainan, minuman, bir dll.

Di bagian tengah di sana sini terdapat kios2 kecil yang hanya terdiri atas satu atau dua meja atau bahkan tanpa perlengkapan, sehingga barang dagangan digelar di tanah dengan penerangan pelita. Barang dagangan umumnya berupa beberapa jagung rebus atau bakar, kacang rebus, singkong goreng atau mainan dalam jumlah tidak banyak. Semua serba sederhana mengingatkan suasana serupa pada pasar malam di masa kanak2 dulu. Oh ya untuk masuk THR seseorang perlu membayar tiket Rp. 4000 untuk dewasa dan Rp. 3000 untuk anak2.

Pada hari kedua dilakukan kunjungan ke bendungan Kambaniru, yang dengan angkot sekitar 1/2 jam jaraknya dari Waingapu. Selain dikelilingi pemandangan indah, bendungan ini juga memiliki debit air tinggi yang sangat potensial untuk pemanfaatan energi hidro, mencapai 2×500 kW?

Saat ini airnya terutama digunakan untuk irigasi sawah. Memang dengan 9 bulan musim kemarau, dan musim hujan yang hanya 3 bulan, Sumba Timur kelihatan sangat kering dan gersang.

Bukit2 tampak kuning atau terkadang menghitam karena rumput yang terbakar ? Tetapi di lembah kadang2 dijumpai pula warna hijau karena selain terik matahari yang tidak terlalu lama menyinari, juga jenis tanah sekitar lembah mungkin agak sulit menyerap air sehingga air yang jatuh segera mengalir ke lembah

Itu barangkali alasannya mengapa dari kejauhan terlihat kambing2 beriringan menaiki perbukitan untuk mencari rumput di lembah di antara bukit2 kering. Suatu pemandangan indah yang mengingatkan saya akan Mull of Kyntire nya Mc. Cartney…. far have I travelled and much have I seen, darkest of mountains with valleys of green, vast painted deserts, the sunset’s on fire as he carries me home to….island of Sumba

Di Sumba ternak-ternak tidak digembalakan. Sapi, kerbau, kambing setiap hari meninggalkan kandang untuk mencari makanan sendiri yang kadang sangat jauh terutama di musim kering, dan pada saat sore kembali ke kandangnya lagi tanpa kehilangan arah. Itu mungkin sebabnya pula ternak terlihat kurus karena banyak energi terbuang, lagi dagingnya tidak seempuk versi impor karena menjadi berotot akibat setiap hari melakukan perjalanan jauh?

Usai mengunjungi Kambaniru kami berkesempatan bertemu dengan pimpinan PDAM setempat, Ibu Agustinus RN Hawu yang sangat ramah dan sangat fasih dalam menjelaskan berbagai masalah terkait PDAM.

Menurut beliau, sumber air yang ada yaitu mata air Gunung Meja, Payeti, Lakulu cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk, bahkan di musim kemarau sekalipun. Kualitas air baik, sehingga tanpa pengolahan dapat didistribusikan ke penduduk.

Yang kurang adalah infrastruktur a.l. karena saat pembangunan kontraktor tidak berkoordinasi dengan PDAM, sehingga debit air yang tinggi tidak tertampung sepenuhnya ke dalam bak penampung. Dari debit sekitar 400 l/detik, hanya 80 l/detik yang ditangkap akibat desain yang tidak optimal.

Di samping itu banjir pada 2010 akibat pembabatan hutan sempat menghancurkan infrastruktur yang ada. Belum lagi gempa yang mengguncang baru2 ini  menyebabkan pipa menjadi miring dan bocor.

Kebutuhan mobil tanki sangat terasakan oleh PDAM, mengingat dari beberapa unit bantuan ex Timtim tahun 1980 hanya satu yang layak beroperasi, sehingga pasokan air ke tempat-tempat yang sulit atau sama sekali tidak ada air, ataupun ke tempat yang tidak tercapai jaringan, sering terkendala. Karena itu bantuan mobil tanki tentu akan sangat mendukung kelancaran distribusi air.

Kapal direncanakan bertolak dari Sumba pada jam 4 sore yaitu segera setelah Menko Kesra bergabung untuk menuju Pulau Komodo. Ada pengalaman yang mengesankan ketika  akan meninggalkan pelabuhan.

Sehari sebelumnya saat di Megalithikum, di tengah panas dan keringnya udara, kami sempat membeli minuman nila lontar dalam botol aqua dari seorang penjual keliling. Cukup murah, 6 botol a 600 ml hanya Rp. 10 ribu. Di luar dugaan, saya dan beberapa teman merasa perut menjadi nyaman setelah meminumnya. Barangkali nira lontar mengandung bakteri/ragi serupa dengan dalam yoghurt atau Yakult sehingga menyamankan perut?

Karena itu keesokan harinya kami berusaha mendapatkan lagi, tapi di sepanjang jalan tidak ditemui penjualnya. Oleh sebab itu saat tiba di pelabuhan, saya dan Kemas menanyakan seorang tukang ojek bernama Pak Ibrahim tentang nira lontar. Jam sudah menunjukkan pukul 14.45. Pak Ibrahim menyanggupi untuk mencarikan 6 botol nira dalam waktu yang tidak lama. Uang untuk membeli nira kemudian diserahkan kepada Pak Ibrahim.

Saya dan Santi menunggu di sekitar kapal, tetapi sampai jam 15.45 Pak Ibrahim belum terlihat, sementara kapal sudah dalam persiapan menyambut Menko Kesra, sehingga keluar masuk kapal menjadi sulit. Melihat keadaan ini, saya dan Santi kembali ke kamar.. give up.…  Sekitar jam 16 Bu Iwil memberitahu bahwa ada seorang tukang ojek menunggu di bawah dengan botol nira, kebingungan mencari pemesannya.

Mendengar itu saya dan Santi segera berlarian ke pintu kapal dan tampak Pak Ibrahim dengan gelisah hilir mudik di daratan sambil mengangkat tinggi2 ke 6 botol pesanan. Tetapi kami tidak dapat lagi turun ke darat, karena pintu kapal sudah tidak bisa dilewati akibat persiapan tadi. Akhirnya dengan bantuan seorang petugas kapal, pesanan berhasil juga sampai ke tangan kami. Sungguh mengesankan, ketika seorang tukang ojek sederhana berusaha keras menepati janji untuk mengantarkan minuman yang telah dipesan dan dibayar…….

n.b. Terimakasih kepada Hoet dan Icha atas foto2 dan infonya


Pulau Komodo (12 Sept 2013)

Setelah berlayar sekitar  7 jam, mendekati tengah malam kapal tiba di Pulau Komodo. Mungkin karena tanahnya yang gersang, dari kejauhan Pulau Komodo tampak berwarna kecokelatan

Hari masih cukup pagi saat seluruh tim Bhakesra, termasuk Fortuga bahu membahu secara estafet menurunkan barang2 bantuan seperti makanan kaleng, sepatu, dll

ke pintu keluar yang selanjutnya diangkut dengan perahu ke tempat tujuan.

Selesai mengeluarkan seluruh barang bantuan dari kapal, tim Fortuga berjalan menuju ke Taman Nasional Komodo, yang  cukup  ramai dikunjungi para wisatawan dari mancanegara.  Di sana sini dijumpai wisatawan dengan penampilan apik, datang dan pergi dengan boat yang terlihat berkelas. Tak mengherankan, karena biaya untuk menyeberang ke Pulau Komodo dari Labuan Bajo tidak murah,  mencapai USD 100 per orang. Kabarnya beberapa tahun yang lalu masih dihargai dalam rupiah, sekitar seratus dua ratus ribu, tetapi seiring dengan makin banyaknya turis mancanegara sejak pencanangan Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia, harga dengan cepat ikut melonjak dan dihitung dalam dollar.

Saat berkeliling di Pulau Komodo, rombongan didampingi oleh pemandu yang juga merupakan polisi hutan atau biasa disebut Ranger. Setiap ranger biasanya memandu maksimum 20 orang dalam satu tim dengan biaya Rp. 80ribu selama lebih kurang 1 jam. Ranger mewanti-wanti agar tim selalu dalam kelompok, tidak terpisah-pisah atau terpencar, mungkin karena keberadaan komodo yang tidak bisa diduga, dapat di mana saja. Tidak jauh rombongan berjalan, di sana sini dijumpai beberapa ekor komodo yang sedang tidur atau dalam keadaan tidak alert

Komodo berwarna cokelat tua, terlihat bersisik, dan rata2 mempunyai panjang sekitar 2 m. Pada saat itu komodo memang banyak berkumpul di tempat tsb, karena ranger yang telah mengantisipasi ramainya kunjungan wisatawan pada hari tersebut, telah menyediakan seekor kambing di pagi harinya untuk memancing komodo datang dan menyantapnya di lokasi tersebut.

Setelah kenyang komodo akan mengantuk dan tidak agresif, sehingga akan cukup aman bagi para wisatawan yang ingin melihatnya.  Meskipun demikian ranger selalu mengingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan komodo, jarak paling sedikit 2 m harus terus dijaga, karena dapat saja komodo menjadi waspada yang kemudian  segera diikuti dengan ancang2 untuk menyerang.  Hal ini akan terlihat dari kedua kaki depan yang lebih tegak, bahkan saat diperlukan komodo dapat berdiri di atas kedua kaki belakang dengan ditunjang oleh ekornya yang kuat. Bila telah siap menyerang, akan sulit bagi seseorang untuk menghindar dari kejarannya, karena komodo dapat berlari jauh lebih cepat dari manusia.

Biasanya setelah mempunyai target buruan, seekor rusa misalnya, komodo akan mengejarnya bahkan sampai ke pinggir pantai dan dengan sabar menunggu kembalinya rusa yang kelelahan berenang. Komodo biasanya berpura-pura diam tidak bergerak dan langsung menyerang begitu rusa mendekat. Gigitan komodo sangat mematikan karena mengandung bisa dan berbagai macam bakteri yang sangat ganas. Jika binatang yang telah terkena gigitan komodo berhasil luput,  komodo dengan sabar menunggu karena dalam waktu beberapa hari binatang tersebut akan mati untuk kemudian dihampiri dan dilahapnya.

Menurut ranger, beberapa tahun yang lalu, Panji sang Penakluk yang sering mengisi acara di tv,  terkena gigitan tersebut. Setelah 3 hari demam sang penakluk akhirnya tidak tertolong. Vaksin gigitan komodo pada saat itu konon hanya dapat diperoleh dari Amerika.

Komodo memang merupakan binatang yang mempunyai penciuman sangat tajam, dapat mendeteksi keberadaan daging atau bangkai yang ber-kilo2 meter jauhnya, bahkan kabarnya dapat menggali mayat yang dikubur tidak terlalu dalam untuk dimangsa. Oleh karena itu penduduk setempat tidak mau menguburkan seseorang di tanah berpasir, tetapi dalam tanah yang liat sehingga tidak dapat digali oleh komodo.

Tidak seperti carnivora lain yang sering menyisakan bagian yang sulit dimakan seperti tulang atau gigi, komodo akan melahap seluruh bagian binatang. Bagian tanduk yang sangat keras akan dimuntahkannya kemudian.

Komodo merupakan binatang primitif yang tidak mengenal siapa yang memeliharanya atau memberinya makan setiap hari.  Komodo bahkan akan memangsa anaknya sendiri. Oleh karena itu untuk bertahan hidup, begitu menetas anak komodo segera berlari ke pohon atau ke gua2 dan memakan serangga atau binatang2 kecil seperti tikus dll untuk dapat tumbuh membesarkan diri. Sampai beberapa tahun pertama anak komodo akan tetap tinggal di pohon atau gua karena rentan dimangsa binatang lain termasuk komodo dewasa.

Taman Nasional Komodo terlihat agak gersang,  di sana sini  ditumbuhi semak yang diselingi oleh pepohonan kurus, seperti pohon asam, yang meski tidak rindang tetapi cukup banyak buahnya.  Buah2  banyak berjatuhan disekelilingnya. Menurut ranger, di dalam hutan selain asam terdapat pula beberapa jenis buah2an lain seperti lengkeng. Meskipun begitu demi menjaga ekosistem di sana tidak ada sepotong bendapun diijinkan untuk dibawa keluar dari pulau. Buah2an, tanaman, binatang, bahkan batuan/karang yang terhempas di pantai merupakan benda yang dilindungi.  Buah dan tanaman ini merupakan makanan binatang2 yang terbatas jenisnya  di pulau Komodo seperti rusa, sapi liar, kuda liar, babi hutan, monyet, bermacam ular seperti cobra, ular pohon dll.  Menurut ranger, kita harus berhati-hati berjalan di hutan, karena mungkin saja terjadi tiba2 ular jatuh dari pohon…..hiii.

Saat rombongan akan pulang, sempat terjadi sedikit kehebohan, terlihat beberapa orang berlari-lari dan di dekatnya seseorang ditandu menuju ke pos P3K. Wah, apakah ada yang terkena gigitan komodo?  Ternyata yang ditandu adalah seorang turis mancanegara yang terkilir saat berjalan di pulau…..Oo, untunglah…

Sekitar tengah hari rombongan kembali ke kapal yang sedang ber-siap2 berlayar ke Labuan Bajo untuk melaksanakan pengamanan, sehubungan dengan kedatangan SBY ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo dalam rangka acara pembukaan Sail Komodo.  KRI yang berfungsi sebagai kapal penyekat dalam pengamanan tersebut pada saat itu sudah berada dibawah komando TNI AL….

Leave a Reply