Gorontalo 2013


Fortuga Ke Gorontalo 2-5 November 2013


Tour Gorontalo (2-5 Nov 2013)

oleh Lienda Aliwarga TK73

Hari Pertama 2 November 2013

Berangkat dari Jakarta menuju Gorontalo lumayan pagi karena pesawat dijadwalkan tinggal landas jam 7.15. Banyak dari teman2 yang hanya sempat tidur 2-3 jam karena harus mempersiapkan koper dan bangun pagi.  Meski begitu saat bertemu di Bandara Sukarno-Hatta suasana tetap heboh meriah. Maklum jumlah peserta cukup banyak yaitu sekitar 34 orang.

Perjalanan Jakarta-Gorontalo memakan waktu hampir 5 jam termasuk transit di Makassar. Panas khatulistiwa yang terik dengan langit yang bersih menyambut rombongan saat  turun dari pesawat di Bandara Jalaluddin Gorontalo

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tidak jauh dari tangga pesawat terlihat di Mimi dan EO telah menunggu. Setelah beristirahat sejenak di ruang VIP Bandara, rombongan berangkat dengan bus dan mobil ke PLTU Molotabu yang jaraknya sekitar 1,5jam dari Bandara.

Jalan yang dilalui menuju Molotabu banyak berkelok dan sebagian lebarnya pas untuk 2 mobil, tetapi sopir sangat terampil dan menguasai medan dengan baik, meski kadang2 perlu dilakukan rem mendadak karena tiba2 kambing atau ayam menyeberang jalan. Rute yang dilalui menyajikan pemandangan beragam, mulai dari sawah dan kebun dengan latar belakang perbukitan hijau nan luas

deretan rumah seperti umumnya di kota kecil, rumah yang jaraknya makin berjauhan satu sama lain di daerah pedesaan. Semakin mendekati PLTU yang berada di pinggir pantai, sawah, kebun dan rumah semakin jarang dijumpai. Yang terlihat adalah bukit2 yang berbatu karang atau kapur yang kadang2 sangat terjal dengan banyak semak belukar di atasnya.  Sungguh sebuah pemandangan yang membuat terperangah saat melihat laut di sisi kanan jalan dan persis di  kiri jalan tebing karang terjal dengan sudut mendekati 90 derajat menjulang puluhan meter ke atas.  Yang  mengagumkan adalah jalan yang dilalui dengan panjang sekitar 45km tersebut sangat baik kualitasnya, mulus tidak berlubang ataupun bergelombang…..wah, tampaknya Bandung kalah dalam hal ini….

Dalam perjalanan ke Molotabu rombongan sempat makan siang di sebuah restoran yang menyajikan ayam goreng dan bakar, mirip dengan makanan khas Sunda dengan sambal ala Gorontalo yang luar biasa sedapnya…

PLTU Molotabu yang dibangun selama 2,5 tahun sejak rata dengan tanah, mulai beroperasi sekitar 3 bulan yang lalu dengan kapasitas 12MW

Sebagai bahan baku digunakan batubara muda yang didatangkan dari Kalimantan dengan nilai kalor kurang lebih 3600kkal/kg. Air untuk keperluan operasi termasuk boiler diperoleh dari air laut yang telah mengalami beberapa tahap pemrosesan  a.l. mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, RO dan ion exchange.  Barangkali air yang di-reject oleh ultrafiltrasi dan RO dapat dipekatkan untuk diambil garamnya?  Air laut memang mudah diakses  karena PLTU Molotabu terletak di tepi pantai Bone. Air pendingin yang dibuang kembali ke laut mempunyai arus yang cukup deras, sehingga menurut salah seorang dalam rombongan arus tersebut dapat dimanfaatkan untuk mini/mikrohidro? Yang patut dicatat, keberadaan PLTU ini membuat Gorontalo  yang sebelumnya sering gelap karena pemadaman listrik sekarang menjadi lebih terang. Meskipun begitu kapasitas 12MW ini masih jauh di bawah kebutuhan listrik di Gorontalo, sehingga pembangunan PLTU dan PLTG di Gorontalo akan dicoba untuk direalisasikan…(Mimi, correct me if I am wrong yaa..)

Selesai mengunjungi PLTU kami menyeberangi jalan menuju villa Mimi yang letaknya di tepat di pinggir pantai. Saat mendekati villa tiba2 di depan terhampar pemandangan yang menakjubkan

laut yang tenang dengan latar belakang pohon2 yang hijau di pulau nun jauh di sana. Sebuah pemandangan yang  membuat frekuensi otak yang sebelumnya tinggi disibuki hiruk pikuk persoalan segera bergeser ke daerah tenang teduh. Luar biasa… itu barangkali sebabnya laut di sekitar Gorontalo sering di sebut memberi kedamaian? Oya, sunset di depan villapun amat indah

Tiba di villa, rombongan disambut dengan sup jagung dan kue2 Gorontalo yang menggoyang lidah. Sebagian besar rombongan Fortuga menginap di villa berlantai 2 yang nyaman

dengan 5 kamar, masing2 kamar diisi oleh 3-5 orang, sedang di ruang tamu diisi lebih banyak lagi.  Sembilan orang termasuk 3 orang GNOTA tinggal di rumah Mimi yang letaknya di pusat kota. Jarak dari villa sekitar 1/2 jam perjalanan menggunakan mobil.

Setelah beristirahat sejenak, tiba saatnya makan malam di resto Meranti Kabila. Perjalanan menuju resto yang jaraknya cukup jauh dari PLTU menyuguhkan pemandangan yang menarik. Di beberapa tempat di pinggir jalan dengan sebuah meja kecil yang diterangi lampu petromax, terlihat orang berjualan ikan kecil2 dengan panjang sekitar 3 cm, seperti  teri tetapi agak gemuk dan pendek, biasa disebut sebagai ikan Nike (huruf e dibaca seperti pada kata jahe). Ikan ini sangat populer di Gorontalo  karena lezatnya dan hanya dapat ditemukan pada saat bulan mulai gelap, sekitar hari ke 27 dari kalender bulan sampai beberapa hari sesudahnya.  Infonya ikan Nike tidak akan dapat ditemui di belahan bumi manapun selain di Gorontalo, karena ikan ini memang khas daerah tersebut. Menurut cerita, ikan Nike itu awalnya berbentuk seperti bola basket yang hanya boleh ditangkap setelah bola tersebut pecah di muara sungai dan mengeluarkan ikan2 yang tak terhingga jumlahnya. Konon sebuah bola basket akan menghasilkan ikan sampai 1 truk. Pernah pada suatu hari seseorang mencoba menangkap ikan dalam bentuk bola basket. Yang terjadi adalah bola kemudian pecah dan melepaskan ikan2 yang sedemikian banyaknya, sampai orang tersebut tewas tenggelam tertutup ikan.

Ikan Nike sangat enak untuk dibuat gorengan yang krispi, perkedel ikan atau masakan lainnya. Bu Noor dari EO berinisiatif membeli ikan Nike dari pinggir jalan untuk digoreng di resto yang dituju. Wah, sebuah makan malam yang penuh experience karena selain sedapnya ikan Nike yang digoreng seperti perkedel, disajikan pula ikan air tawar (mujair menurut Noor, mas menurut Sapta J)  yang memang berbeda daripada ikan air tawar di Pulau Jawa. Mujair atau mas ini rasanya lebih juicy dan sedap…hehe ikan2 langsung ludes tidak lama setelah disajikan

Yang juga istimewa adalah sambal Gorontalo, sangat pedas dan luar biasa sedap, ditambah oseng daun bunga pepaya dan oseng kangkung. Tak ketinggalan es serut yang ditaruh dalam gelas dengan sirup berwarna pink menggoda

Tak lama setelah kembali ke villa suasana berangsur sepi, mungkin karena makan malam yang membuat mata menjadi berat, di tambah ini adalah hari yang panjang dan besok harus bangun pagi karena rombongan  akan berlayar ke Saronde atau menyelam di sekitar Pantai Bone…

Terimakasih kepada Ocan atas kontribusi foto2nya…


Tour Gorontalo (2-5 Nov 2013)

Hari Kedua 3 November 2013

Jam 6 pagi di Gorontalo langit telah terang benderang. Setelah sarapan rombongan berkesempatan mengelilingi laut di sekitar villa dengan menaiki perahu yang unik. Berbeda dari perahu biasa yang melancip di kedua ujung, perahu ini berbentuk empat persegi panjang seperti rakit tetapi dilengkapi dinding dan tempat duduk di kedua sisinya. Alasnya dibuat dari pipa2 (pralon?) berdiameter besar yang disusun berjejer sesuai dengan panjang perahu. Bagian tengah perahu diberi lubang berukuran sekitar 40x 80 cm2 yang dipasangi dinding di sekelilingnya, sehingga penumpang dapat leluasa mengintip ke air laut di bawahnya

tanpa khawatir terjatuh ke lubang. Bagian atas diberi atap plastik hijau untuk berlindung dari hujan atau sengatan matahari, sehingga dari jauh perahu terlihat bagai saung yang terapung di atas deretan pipa. Perahu yang dapat memuat puluhan penumpang ini ternyata dibuat Mimi dari bahan sisa pembangunan PLTU, seperti pipa2, besi batang atau lembaran, fiber dll.

Saat memandang ke bawah ketika berperahu, di kedalaman air laut  yang jernih terlihat jelas ikan2 dan terumbu karang. Hanya, mengapa sebagian besar karang berwarna hitam atau putih? Menurut Iwan, telah terjadi bleaching a.l. karena pemanasan global….wah, sayang sekali…tetapi menurut teman2 yang menyelam, agak jauh dari tempat berkeliling masih terdapat terumbu karang indah yang berwarna warni.

Setelah melancong sekitar ½ jam, rombongan kembali ke villa untuk ber-siap2 ke acara selanjutnya yaitu menyelam, berwisata ziarah atau ke pulau Saronde.

Jarak pulau Saronde cukup jauh dari kota Gorontalo, dtempuh melalui pelabuhan Kwandang yang lokasinya sekitar 70 km dari kota Gorontalo, disambung dengan perahu yang disebut katinting selama 45 menit atau speed boat sekitar 25 menit. Rombongan yang sebagian besar memilih wisata ke pulau Saronde berangkat dengan bus dan beberapa mobil.

Serupa dengan perjalanan dari bandara ke Molotabu, rute Gorontalo – Kwandang yang memakan waktu sekitar 2 jam menyuguhkan pemandangan yang ber-ganti2, mulai dari rumah2 yang sangat dekat dengan jalan sampai perbukitan hijau berlekuk-lekuk nan luas. Jalan mulus yang dilalui  sebagian merupakan jalur utama yang menghubungkan kota Gorontalo dengan Menado.  Menjelang tengah hari, tak lama setelah tiba  di pelabuhan Kwandang, rombongan kemudian bertolak ke pulau Saronde dengan katinting yang  memuat hampir 20an orang  dan speed boat 10an orang.

Dari atas katinting tampak hamparan laut yang damai dengan latar belakang pulau2 hijau yang terlihat kecil dari kejauhan, diselingi oleh belantara kelapa dengan buah lebat melambai.  Tiba di Saronde pasir putih halus menyambut

menggoda untuk bermain dan berlarian di atasnya. Kombinasi laut hijau kebiruan yang hening dengan pulau2 kecil di sekeliling ditambah langit bersih dengan matahari yang bersinar cerah, menciptakan sebuah pemandangan indah menyiramkan keteduhan bagi yang melihatnya.

Nun jauh di sana terlihat gelombang bergulung terhempas dan pecah meninggalkan garis keputihan datang dan pergi.

Teman2 yang menaiki speed boat telah tiba lebih dahulu di Saronde, bersantai di dermaga sambil  menikmati  makan siang yang dibekal dari Gorontalo. Di mulut dermaga, yang jaraknya hanya beberapa menit berjalan kaki dari tempat katinting merapat, Kang Enuy telah menunggu. Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang ternyata adalah Mia, ex mahasiswa TK99.

Agak mengejutkan dapat bertemu Mia di tempat jauh dan terpencil ini. Mia, seorang wanita priangan yang rupawan, berkulit putih bersih dengan tutur kata halus menawan menangani proyek pengembangan pulau Saronde sejak 3 bulan yl, tidak lama setelah sang mertua yang asli Gorontalo mendapat konsesi 30 tahun untuk pengembangan wisata di kawasan ini.

Dermaga yang terbuat dari kayu kelapa sepanjang 80m

baru terbangun sebulan lalu. Saat ini Mia sedang merenovasi cottage yang jumlahnya 3 buah, sebuah di antaranya telah selesai dan ditempati Mia jika berada di Saronde

Wah….Mia tinggal di cottage sendirian di sebuah pulau yang nyaris tidak berpenghuni ?….tetapi kelihatannya memang tidak perlu ada kekhawatiran tinggal di sana, karena Mia telah berteman dengan orang sekeliling termasuk personil TNI AL yang berada di pulau, tukang2 perahu yang sering membawa Mia bolak balik ke pelabuhan Kwandang, tempat Mia berkantor.  Beberapa hari ke depan pada tgl 7 dan 8 November, Saronde yang luasnya sekitar 5 ha akan sangat sibuk oleh pemilihan Putri Saronde. Putri yang terpilih nantinya bertugas mempromosikan Saronde sebagai tempat wisata.

Pantai di sekeliling Saronde sangat landai. Saat surut orang dapat berjalan kaki menuju Pulau Palowa,

sebuah pulau sekitar 200 m di sebelah Barat Saronde, yang sebagian besar tersusun dari batu2 besar, sehingga sering disebut sebagai Pulau Batu. Di belakang terlihat pulau Bogisa nan cantik

yang karena keistimewaan pantai dan pasirnya juga akan dikembangkan menjadi tempat wisata pribadi.   Penasaran dengan Bogisa yang disebut sangat istimewa, selesai makan siang rombongan menuju Bogisa yang terpaut hanya sekitar 5 menit menggunakan speed boat.

Air laut yang sangat jernih dan tenang, bagaikan sebuah kolam renang raksasa yang dihiasi pasir putih dan ikan2 serta tanaman laut di dalamnya, lengkap dengan langit biru dan pemandangan menyejukkan nun jauh di sana, membuat orang tergerak untuk terjun menikmati hangatnya air laut di pantai Bogisa. Tidak heran sebagian rombongan menceburkan diri saat tiba di Bogisa, lengkap dengan scrub dari pasir yang sangat halus. Barangkali  daya tarik ini yang menjadi alasan mengapa Bogisa dengan tebing2 tinggi seluas sekitar 8 ha, sebuah tempat tanpa penghuni, dengan pasir putih nan lembut di pesisir landai

terapit laut di kiri kanannya, akan dikembangkan menjadi pulau wisata pribadi…

Selesai berenang di pantai Bogisa sebagian rombongan kembali ke Saronde untuk mandi atau menukar pakaian basah di cottage Mia, karena di Bogisa belum ada fasilitas apapun. Di cottage, sambil menunggu kembalinya speed boat yang sedang mengantar sebagian rombongan ke Kwandang, kami menikmati nasi goreng  hangat yang dibawakan oleh EO… Oo rupanya Bu Noor meminta sebuah warung di Saronde untuk menggorengkan nasi yang masih ada…..lumayan sedap untuk sebuah masakan yang tiba2….

Menjelang senja kami tiba kembali di Kwandang untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Gorontalo. Rombongan terakhir ini tidak besar, hanya sebuah bus dengan beberapa penumpang ditambah sebuah mobil yang diisi oleh Mimi, Sapta dan Alita, karena teman2 yang berangkat lebih dulu dengan speed boat telah kembali ke Gorontalo. Saat sedang terkantuk-kantuk di dalam bus, tiba2 bus berhenti. Apakah ada masalah dengan bus? Ternyata mobil Mimi yang berada di depan berhenti di sebuah warung yang menjual jagung pulut rebus

Wah, enak sekali jagung pulut yang dimakan bersama sambal dan bunga pepaya yang sudah diberi bumbu. Tanpa terasa setiap orang rata2 menyantap 5 atau 6 jagung pulut berbumbu tsb…

Tiba di Gorontalo kami langsung ke rumah Mimi yang telah menyiapkan makan malam untuk rombongan. Rumah Mimi bergaya rumah Belanda jaman dahulu, dengan langit2 yang tinggi dan 4 kamar yang sangat luas, lengkap dengan tempat tidur besar dan kamar mandi di setiap kamarnya, membuat seseorang serasa berada di kamar sebuah hotel berkelas. Ruang tamupun sangat luas dilengkapi dengan foto2 keluarga termasuk foto Putri Gorontalo Alexandra yang sangat cantik, yang ternyata adalah keponakan Mimi. Di belakang ruang tamu terdapat ruangan tempat disajikannya berbagai masakan Gorontalo dari ikan2, daging sapi dan ayam yang sangat lezat menggoyang lidah. Sebuah makan malam yang meriah mengasyikkan dimana teman2 saling berbagi pengalaman tentang perjalanan yang dilakukan di siang harinya.

Usai makan malam, saatnya kembali ke villa untuk beristirahat dan menyiapkan perjalanan ke hutan Nantu esok….

Terimakasih kepada Mia dan Ocan atas kontribusi foto2nya.


Tour Gorontalo (2-5 Nov 2013)

Hari Ketiga 4 November 2013

Pagi sekali teman2 Fortuga sudah ber-siap2 karena rencananya perjalanan ke hutan Nantu akan dilaksanakan sebelum jam 6. Tetapi karena menunggu sarapan pagi yang datang agak terlambat, keberangkatan tertunda beberapa saat. Ada baiknya juga, karena beberapa teman yang semula tidak berniat turut serta karena tidak ingin bangun di pagi buta, menjadi bisa ikut karena keterlambatan ini.

Perjalanan kali ini menggunakan 6 buah mobil yang berangkat beriringan dalam bentuk konvoi dengan terlebih dahulu menjemput kelompok Fortuga dan GN-OTA yang tinggal di rumah Mimi di kota Gorontalo.  Bus tidak digunakan karena jalan menuju hutan Nantu nantinya melewati jalan kecil yang berbatu termasuk juga beberapa jembatan kayu yang yang sulit untuk dilalui oleh kendaraan besar.

Belum lama iringan mobil berangkat, tiba2 mobil di depan yang dinaiki oleh Sapta, Mimi, Alita berhenti…hehe ternyata karena di pinggir jalan ada warung yang menjual pisang ranum

menggoda untuk dibeli, yang kemudian di-bagi2-kan ke setiap mobil rombongan. Baru berjalan lagi beberapa saat, ketika orang2 mulai menikmati pisang, tiba2 mobil di depan kembali berhenti…hehe kali ini karena ada warung yang menjual makanan kecil Gorontalo, termasuk kacang khas  daerah ini  yang mirip kacang tanah, tetapi besar2 bentuknya. Wah, senang sekali ikut bersama rombongan Mimi dan Sapta, betul2 sebuah piknik untuk menikmati perjalanan dengan santai, tidak dikejar waktu untuk segera sampai tetapi langsung berhenti begitu ada yang bisa dinikmati.

Perjalanan menuju hutan Nantu termasuk panjang, sekitar 3 jam dengan mobil untuk mencapai perkampungan  yang paling dekat disambung dengan sekitar 1 jam berjalan kaki termasuk melewati sungai Panguyaman yang besar. Seperti juga pada rute sebelumnya, perjalanan ini menyuguhkan pemandangan yang beragam. Makin menjauhi kota Gorontalo makin banyak pepohonan dan bukit kehijauan nan indah.  Di beberapa tempat terlihat dari kejauhan bukit2 seperti  trapesium2 kecil yang tersusun rapi, satu di depan yang lain dengan latar belakang pegunungan yang kadang samar tertutup kabut.  Susunan tersebut demikian rapi sehingga timbul pertanyaan, betulkah ada bukit alamiah yang tertata begitu teratur? Tetapi bila ada campur tangan manusia untuk membuatnya,akan sangat besar pekerjaan yang harus dilakukan dan niscaya perlu menggunakan alat2 berat.

Kebun2 jagung sangat banyak dijumpai, baik yang sudah dipanen sehingga hanya tertinggal batang2 kering maupun yang subur dengan daun lebat kehijauan, tersebar di berbagai tempat bahkan di bukit2 yang curam sekalipun. Menurut cerita pemandu, jagung menjadi salah satu komoditi yang secara intensif dijagokan sebagai andalan saat Fadel Muhammad menjadi gubernur Gorontalo.

Di beberapa tempat tampak perbukitan nan luas tertutup tanah cokelat yang sedikit basah seperti baru digarap. Untuk apakah perbukitan seluas itu dan terkesan telah ditangani  secara masif? Akan dibuat kebun2 sawitkah? Di sekitar daerah yang dilalui sempat terlihat sebuah tempat persemaian luas dengan bangunan besar canggih

sebagian berkerangka metal, tampak menyolok di tengah pepohonan, semak dan rerumputan liar yang dilewati. Di tempat tersebut ribuan atau barangkali atau puluhan ribu pohon sawit kecil berjejer tertata rapi dapat dilihat dari kejauhan

Ternyata di Gorontalopun ada kampung Bali dan kampung Jawa. Saat melewati kampung Bali terlihat banyak pura di sana sini dengan patung dan gerbang yang mirip seperti di Bali. Rupanya memang pernah di satu masa terjadi transmigrasi dari orang2 Bali ke Gorontalo. Sedang yang menandai adanya transmigran Jawa adalah dari nama2 yang terdengar atau terpampang misalnya Kampung Wonosari, SD Wonosari. Di daerah tersebut memang banyak orang Jawa yang tinggal.

Berbeda dari perjalanan sebelumnya, jalan menuju hutan Nantu tidak selalu beraspal dan mulus. Beberapa kali mobil harus menapaki jembatan kayu

yang hanya dapat dilalui oleh mobil kecil seperti sedan. Itu sebabnya perjalanan kali ini tidak meggunakan bus seperti sebelumnya. Di sebelah jembatan kayu,  mengikuti kontur tanah, biasanya terdapat pula jalan darurat yang kadang masih dilewati air sungai, ber-batu2 atau telah diberi beberapa balok kayu supaya dapat dilalui kendaraan saat jembatan kayu rusak atau tidak berfungsi.  Sempat di salah satu jembatan kayu, mobil yang kami tumpangi harus melewati jalan berbatu yang dialiri air sungai tersebut

karena jembatan terlihat ringkih untuk dilalui. Perlu keahlian khusus untuk membawa mobil melewati jalan ini.

Beberapa kilometer sebelum mencapai perkampungan tempat menitipkan mobil, jalan yang dilalui merupakan jalan kecil tidak beraspal, kadang berbatu, sehingga lalulintas tidak lancar. Konon sengaja dibuat seperti itu untuk melindungi hutan Nantu dan daerah sekitarnya  dari exploitasi  besar2-an seperti pembalakan hutan dan penambangan liar  yang sangat merusak lingkungan. Sebenarnya tanda2 kerusakan ini telah nampak dari air sungai Panguyaman yang tidak lagi jernih.

Tiba di tempat penitipan mobil yang berupa lahan parkir yang diapit oleh beberapa rumah penduduk, rombongan beristirahat sejenak sambil makan siang yang dibekal dari Gorontalo

Saat akan melanjutkan perjalanan menuju hutan Nantu, kepada tiap anggota rombongan dibagikan kantung plastik untuk menyimpan hp, kamera dll agar tidak basah kena air. Mengapa perlu persiapan khusus menghindari basah kena air, apakah karena berjaga terhadap hujan? Memang mendung sudah menggelayut sejak tadi, awan kelabu datang dan pergi, mengundang kekhawatiran turunnya curahan hujan dari langit dalam perjalanan ke hutan. Dari tanah yang terlihat sangat becek

nampaknya hujan telah turun dengan intensif sebelum rombongan tiba.

Setelah berjalan hampir setengah jam melewati pematang sawah, kebun2 jagung yang hijau

dan kebun cabai, rombongan dihadang oleh Sungai Paguyaman  yang lebar dengan air keruh kecoklatan.  Tidak terlihat adanya perahu. Dengan begitu sungai harus diseberangi dengan berjalan kaki .. L… Sekarang menjadi jelas mengapa kepada rombongan dibagikan kantung2 plastik tadi. Rombongan Fortuga yang tiba terlebih dulu terlihat berjalan beriringan menyeberangi sungai yang tinggi ainya mencapai lutut atau malah paha.

Sapta terlihat mencopot sepatunya sebelum menyeberang. Saat sedang menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, tiba2 dari sisi sebelah kiri terlihat sebuah rakit yang dikemudikan oleh 2 orang. Tentu saja kami beberapa Fortugawati berteriak kegirangan memanggil si tukang rakit untuk segera mendekat.

Rakit terbuat atas 8-10 lembar papan yang disusun berjejer dan hanya mampu mengangkut 2 atau 3 orang sekali jalan

Dengan demikian si tukang rakit harus bolak balik 2-3 kali mengangkut rombongan yang masih tersisa.

Beberapa menit berjalan kaki setelah menyeberangi sungai, rombongan tiba di base camp yang merupakan sebuah rumah panggung sederhana

yang juga menjadi tempat di mana Dr. Lynn selama puluhan tahun tinggal untuk meneliti tentang babi rusa.

Setelah beristirahat sejenak, rombongan kembali meneruskan perjalanan ke dalam hutan menuju kubangan tempat berkumpulnya babi rusa . Jalan yang dilewati kadang2 agak berlumpur dan becek lengkap dengan dedaunan yang membusuk di tanah. Di sana-sini terlihat rotan2 dengan diameter besar, menjulur kadang menghalangi jalan. Menurut pemandu sejak Nantu menjadi hutan lindung, rotan tumbuh menjadi besar karena tidak boleh lagi dipanen.  Pohon2 raksasa seperti Rao ,

beringin hutan dijumpai di berbagai tempat. Dedaunan dari pohon2 besar ditambah tanaman di sekelilingnya sering menghalangi jatuhnya sinar matahari ke tanah sehingga menyebabkan hutan terasa lembab, yang ditandai dengan tumbuhnya jamur di batang2 kayu lapuk. Berbagai bunyi2-an binatang, seperti tonggeret, burung, ikut mengiringi perjalanan di dalam hutan.

Setelah sekitar setengah jam berjalan dengan tanah yang semakin lunak dan berlumpur, tiba2 rombongan diberi tanda untuk tidak mengeluarkan suara. Rupanya rombongan sudah berada di area kubangan babi rusa yang dinamakan  Adudu, yaitu sebuah kolam lumpur yang cukup luas mengandung  garam dan mineral. Babi rusa setiap hari akan datang berkubang sambil minum air dan memakan lumpur di Adudu. Konon mineral yang terkandung dalam lumpur tersebut berfungsi untuk menetralkan racun yang masuk ke tubuh babi rusa karena memakan buah pangi.

Tidak jauh dari Adudu tersedia sebuah gubuk kecil  yang dindingnya mempunyai dua lubang segi empat, masing2 berukuran sekitar 20×40 cm2 ,

tempat para wisatawan mengintip babi rusa, karena binatang ini sangat sensitif dengan suara maupun makhluk lain di dekatnya, sehingga untuk dapat melihatnya harus dari tempat yang tersembunyi. Melalui  lubang pengintip tersebut  beberapa teman Fortuga sempat melihat dan membuat foto rombongan babi rusa bersama anak2-nya  di kubangan .

Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Rombongan babi kemudian lari pergi, mungkin merasakan adanya kehadiran makhluk asing di sekitar.

Di dekat gubuk, terdapat juga sebuah gubuk yang lebih kecil yang letaknya tinggi di atas pohon, biasa digunakan oleh para petugas untuk mengintai babi rusa dengan lebih jelas .

Selesai mengunjungi Adudu rombongan kembali menuju base camp untuk beristirahat sejenak sambil membersihkan sepatu dll yang dilekati lumpur. Sedikit kehebohan terjadi saat akan mencuci kaki, karena di kaus kaki ataupun di kaki beberapa teman terlihat darah mengalir atau terdapat lintah/pacet yang masih menempel. Umumnya teman2 yang menggunakan sepatu sandal yang dihinggapi oleh pacet tsb saat berjalan di dalam hutan. Ukuran pacet tidak terlalu besar, panjang sekitar 4 cm, lebar mendekati 1 cm untuk yang sudah mengisap darah. Tetapi lintah yang hinggap tidak cuma 1 seperti pada Fati yang meskipun telah menggunakan kaus kaki dua lapis, lintah2 hinggap di tiap lapis kaus kaki tsb….wuahh

Ketika tiba di Sungai Panguyaman saat perjalanan pulang, tampak perahu bermotor telah siap untuk mengangkut para penyeberang sungai. Wah senangnya…dengan begitu rombongan tidak perlu masuk ke dalam sungai lagi untuk menyeberang. Si tukang rakit rupanya telah mengantisipasi bahwa rombongan akan kembali, sehingga menyiapkan perahu bermotor yang dapat menampung 10-12 orang sekali jalan .

Tiba di tempat penitipan mobil, beberapa teman Fortuga segera mandi untuk menghilangkan kotoran yang melekat saat menyeberangi sungai, mencuci sepatu yang penuh lumpur dll dengan menggunakan sumur timba di rumah penduduk untuk mengambil air…hehe lumayan juga ada selingan olah raga menimba …  Selesai dengan acara bersih2 rombongan ber-siap2 kembali ke Gorontalo.

Perjalanan pulang sungguh menyajikan pemandangan yang  memukau. Sawah dan ladang yang luas dengan latar belakang pegunungan nun jauh di sana dilengkapi dengan sekawanan burung belibis (?) putih

yang terbang menghiasi cakrawala langit yang putih keabuan, membuat mata tak lepas menikmati keindahan yang bak lukisan. Mungkin itu pula sebabnya tiba2 setelah sekian lama melaju kita semua yang di dalam mobil baru tersadar bahwa jalan yang dilalui bukan menuju pulang dan dua mobil yang mengikuti mobil kami juga ikut kehilangan arah.  Tidak seperti  jalan antar kota di pulau Jawa yang umumnya tidak terlalu sulit menanyakan arah kepada orang yang lewat, di jalan desa yang sepi di Gorontalo ini tidak setiap orang yang dijumpai bisa menunjukkan arah ke kota Gorontalo, sampai akhirnya setelah bertemu dengan sopir mobil box kami dapat menemukan arah yang dituju. Dibutuhkan waktu sekitar 1/2jam untuk kembali ke pertigaan yang benar.

Karena perjalanan yang lebih panjang dari yang direncanakan akibat tersasar tadi, saat kami tiba di villa Mimi, makan malam berserta musik telah dimulai. Hmm sebuah makan malam yang sangat istimewa. Di sisi villa terlihat beberapa orang sibuk mempersiapkan dan memanggang ikan besar2 serta cumi segar .

 

Sedang di beberapa meja telah tersaji bermacam lauk seperti sup ikan yang maknyus ditambah sambal Gorontalo yang sangat sedap, tentu saja dilengkapi ikan2 dan cumi hasil bbq siap untuk disantap.

Makan malam diiringi life music dengan dua penyanyi Gorontalo yang luar biasa kemampuan menyanyinya ,

khusus diundang Mimi untuk meramaikan acara. Tak ketinggalan para penyanyi Fortuga turut memeriahkan suasana ,

Yenny dengan suaranya yang semakin indah sempurna, Jasmin, Fatchy, Mochtar, Maman, Alita, Agus, Hari siapa lagi yaa…kelihatannya seluruh penyanyi Fortuga ikut menyumbangkan suaranya emasnya baik secara solo, duet maupun beregu.  Kejutan disuguhkan oleh Muli yang selama ini jarang terlihat naik panggung untuk menyanyi, ternyata mampu melantunkan lagu2 sulit dengan sangat baik…. masih terngiang sebuah lagu terindah dari Ebiet, sendu membius sukma….mengapa jiwaku mesti bergetar…sedang musikpun manis kudengar…. mungkin karna kulihat lagi lentik bulu matamu……           ……dan kusandarkan harapanku….

Poco2 tentu saja tidak terlupa dibawakan oleh tim Fortuga ….

sungguh sebuah makan malam istimewa yang ditutup dengan nyanyi bersama dalam sebuah lingkaran seperti acara api unggun di jaman mahasiswa dulu…

Waktu telah menunjukkan lebih dari jam 22.00 saat selesai acara makan malam  dan  6 orang teman, Iwan Legowo, Agus Haryanto, Hari Supriyanto, Darwanto, Harwis Jr, Harbas Jr, yang belum sempat ke Saronde di hari kedua, kelihatan ber-kemas2 untuk segera berangkat ke pulau tsb.  Dua acungan jempol untuk semangat luar biasa teman2 untuk melakukan trip ini, yang dipicu oleh cerita tentang keindahan Saronde dan Bogisa, karena dibutuhkan waktu paling sedikit 2 jam untuk mencapai Pelabuhan Kwandang, disambung sekitar 45 menit untuk menyeberang dengan katinting. Mia sendiri, sang penguasa Saronde telah mengatur segala sesuatunya termasuk memesan katinting dan menunggu rombongan di Saronde. Sekitar pukul 02.30 rombongan tiba di Saronde yang segera disambut dengan makanan berlimpah sebagai sarapan pagi. Dalam waktu yang sangat singkat rombongan sempat sedikit beristirahat untuk kemudian menikmati keindahan pantai Saronde serta Bogisa karena jam 9 pagi rombongan harus sudah berangkat dari Saronde menuju airpot Gorontalo untuk mengejar pesawat yang akan berangkat jam 13.15.


Tour Gorontalo (2-5 Nov 2013)

Hari Keempat 5 November 2013

Sarapan pagi hari ini sangat spesial yaitu berupa mie ayam yang dibuat sendiri oleh Noor  EO kita. Noor mengatakan bahwa di Gorontalo tidak ada yang menjual mie ayam yang mirip seperti di Jakarta atau Bandung. Oleh karena itu bila kita ingin memakannya, maka perlu membuatnya, termasuk mie nya itu sendiri….wah hebat, di tengah2 kesibukan, Noor masih bisa membuat mie yang menyiapkan adonannya saja sudah menguras waktu.

Selesai sarapan rombongan berangkat ke SMP Negeri  Kabila Bone yang tidak jauh letaknya dari villa untuk acara GNOTA. Karena selama berada di Gorontalo jadwal demikian padat, beberapa orang dari rombongan sama sekali tidak berkesempatan berbelanja untuk membeli oleh2. Karena itu kami berempat, Sapta, Alita, Lani dan saya menggunakan waktu yang tersisa untuk mencari sedikit oleh2 setelah mengikuti sebagian acara GNOTA. Di toko souvenir banyak dijual kain karawang Gorontalo yang sangat cantik, agak mirip dengan sulam2an yang kita kenal. Kue2 kering  Gorontalopun juga dihias dengan sangat cantik

seperti  sulaman pada kain karawang. Kami juga sempat berhenti di toko kue basah Gorontalo untuk mencicipi kue2 Gorontalo yang lezat disambung dengan makan siang khas Gorontalo yang juga sedap di salah sebuah resto (s. attch)

dalam perjalanan menuju airport…hehe lagi2 ada Sapta, dengan siapa kita bisa berpiknik ria…

Tiba di airport suasana cukup meriah dengan rombongan Fortuga yang sebagian sibuk berfoto, sebagian  sibuk ngobrol, lainnya memeriksa koper yang akan dimasukkan ke bagasi dll. Sebentar lagi tiba saatnya meninggalkan Gorontalo yang  telah menorehkan memori indah menyenangkan. Semua ini tentu tak lepas dari Mimi yang bertindak sebagai tuan rumah yang perfect, mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat apik, mulai dari tempat penginapan di rumah dan villa yang rapih serta nyaman, lengkap dengan logistik yang sedap dan tak putus2nya, trip yang indah ke Saronde dan Bogisa, perjalanan ke hutan Nantu yang penuh experience….dsb ..dsb…terimakasih Mimi….terimakasih atas semuanya ….barangkali akan kita tengok lagi laut Gorontalo yang tenang teduh…..

Terimakasih banyak kepada Ocan, Mimi,Iwan Legowo dan Agus H. atas kontribusi foto2nya.

 

Leave a Reply